ENAM BELAS.

1661 Kata
KEHIDUPAN SAMUEL *** Samuel Ardian Cokroaminoto, nama yang selalu disebut-sebut. SAC adalah geng kaya. Hidupnya yang semampai, yang awal seorang laki-laki biasa kini telah berkuasa. Kehidupan Samuel sangat makmur. Mungkin di kehidupan orang-orang seperti dia tidak akan sama dengannya. Mungkin itu sudah hoki baginya lahir. Nama belakangnya telah tercantum tetap sebagai keluarga terhormat. Cokroaminoto, keluarga terpandang di seluruh publik. Kini dia akan memiliki keluarga baru, keluarga yang tidak pernah dipandang rendah oleh siapa pun. Meskipun nama belakang seperti nama jaman dulu. Tetapi itu bersejarah banget untuk nama tersebut. Ibunya Samuel menikah lagi dengan seorang pria dengan tata yang turun menurun. Pria yang dibilang berkebangsaan, mungkin tidak. Pria yang mempunyai ciri khas sendiri. Bukan karena Samuel memiliki ayah tiri, bukan berarti dia tidak akur dengan keluarga barunya. Samuel adalah laki-laki yang paling disayangi oleh keluarga Cokroaminoto. Akan tetapi Samuel juga memiliki dua saudara tiri. Abang tertua, bernama Johannes Fabian Cokroaminoto, dan Kakak perempuan, bernama Christian Hardiana Cokroaminoto. Semua memiliki nama belakang sesuai keluarga yang sudah turun menurun ayah disayangi oleh Samuel. Samuel adalah anak bungsu dari dua saudara tirinya. Bukan mereka tidak sedarah. Samuel dibedakan oleh mereka. Johannes dan Christian itu adalah saudara paling sayang. Karena mereka juga memiliki kemampuan sendiri. Otak cerdas dan skill tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun. Ayah tiri Samuel adalah Michael Ale Cokroaminoto. Dengan nama itu semua sudah tidak asing lagi, kan. Orang kaya. Kenapa hanya Samuel seorang yang kuliah di Indonesia. Kenapa tidak kuliah di luar asing? Seperti Abang dan Kakaknya tersebut. Mungkin Samuel memang bukan tipe seperti itu. Dia memang orang kaya, yang kaya hanya ayahnya. Bukan dirinya. Samuel memang sudah memiliki otak cerdas semasa usia tiga tahun. Namun kepintaran itu kadang dia salah gunakan. Mungkin karena ibunya selalu memanfaatkan agar bisa di kenal sebagai manusia disegani. "Tuan muda, barang-barangnya sudah saya rapikan, ada lagi yang bisa saya bantu?" ucap David, asisten pribadi. Kemanapun Samuel beranjak keluar, David selalu mengikuti. Walau jarang menampakan diri. Kadang David bisa menyamar menjadi mahasiswa di kampus seperti Samuel atau menjadi orang biasa yang masih puber. David dan Samuel itu beda dua tahun. Samuel berusia dua puluh tiga tahun, sedangkan David berusia dua puluh lima tahun. Batas usia mereka terlihat bukan majikan dan pembantu. Malahan seperti abang adik. "Sudah berapa kali, jangan panggil aku Tuan Muda. Aku ini belum sukses. Panggil nama saja, kok rasanya aku geli di sebut gitu!" ucap Samuel. Samuel memang tidak suka ada panggilan sok wibawa. Hanya beda dua tahun. Walau David tetap menghormati keluarganya. "Gak bisa Tuan. Nanti aku dipenggal sama Nyonya Siska," katanya. Samuel mendengkus. "Terserah, yang penting di luar rumah. Aku gak mau kamu panggil sebutan itu!" ancam Samuel. Dia pun beranjak dari kamarnya. Kamar terakhir dia tempati. Tempat bersama seorang yang dia cintai. Walau wanita itu akan membencinya sampai ke susuk tulangnya. Dia akan meninggalkan negara tercinta beberapa tahun, setelah dia mendapatkan apa dia inginkan. Dia akan kembali dan bertemu mereka berdua, walau dengan kehidupan berbeda. [ Ya ampun, ketik kisah Samuel saja bisa berjam-jam. Sungguh terlalu hamba ini, maaf, kan, hamba ini jikalau kisah Samuel di masa mudanya tidak sesuai dengan ekspetasi awal. Asli parah, hamba ini apa, lah, ketik pun banyak keluhan. Hiks! Maafkan hamba ini, wahai pembaca! ] Pesawat tempur, salah, pesawat Singapore Airlines. (Anggaplah seperti itu. Karena hamba tidak pernah ke luar negeri, ya, pernah. Ke luar negeri tidak pernah menggunakan pesawat singapore Airlines. Palingan naik Air Asia, Malaysia Airline, jikalau ada salah dengan sebuah kendaraan udara, mohon dimaklumi) Samuel duduk khusus, pasti orang kaya itu duduk paling mewah, bisnis. Tapi Samuel malah milih ekonomi. Memang Samuel paling beda dari yang lain. David sih oke-oke saja, selama tidak ada masalah dengan duduk dia tempati. "Ada apa dengan dirimu yang gelisah seperti itu?" tegur Samuel, melihat David seperti kecoa sesat. "Gak ada," jawabnya. "Gak biasa duduk ekonomi? Yaiyalah, kau, kan sering duduk bagian bisnis. Santai, bisa nikmati pemandangan indah," nyinyir Samuel. David yang dengar seakan dia dipojokan. "Gak juga sih. Aku gak sering duduk bagian bisnis, hanya keberuntungan doang," balasnya. Sebenarnya David sedikit kesal saja sih. Dia diminta oleh mamanya Samuel buat jagain dia. Awasi dia. Sebenarnya sosok seperti Samuel gini, buat apa diawasi. Jenis laki-laki juga. Bisa-bisa dia dikira gay pula. "Kenapa muka kau pasang kayak gitu? Aku heran sama kau. Memang tujuan kau ikut dengan aku itu apa sih?" Samuel bertanya. Samuel memang suka bertanya hal tidak penting banget. Apalagi dapat asisten kayak David. Semua diurusin. Kadang Samuel muak dengan pengawasan dari mamanya. "Apa ya? Aku juga gak tau. Tujuan aku di sisi kau apa?" jawabnya dan balik bertanya. Samuel malas kasih pertanyaan lagi ke David. Percuma ditanyain juga, bakal ditanya balik. "Btw, Sam. Kau gak pamit sama si siapa, kekasih spesial," ucap David. Samuel tidak menjawab, dia malah sumbat headset ke kupingnya. Dan memejamkan matanya. Seakan dia pengin tidur. David mengintip. Dia hanya menghela. Padahal dia ingin tau, kenapa Samuel mendadak ingin menyusul mamanya di Singapore. Terus beberapa minggu sikap Samuel makin aneh. Beda, tidak biasa sikapnya diam, cuek, dan acuh banget setiap dia bahas tentang Yulia. Ting! Ponsel David berbunyi sekali, ada pesan. Bukan ponselnya. Tapi ponsel Samuel. Ponsel Samuel ada dua, satu untuk kepentingan bisnis, satu lagi khusus dari teman-temannya. Pesan dari Hardi. David pun membuka pesan itu, isinya mengejutkan batin. Tetapi David tidak mungkin memberitahu soal ini. Mungkin dia akan menyampaikan pada Samuel setelah mereka sampai tujuan dengan selamat. *** Rumah makan non halal, Hardi memesan beberapa menu lauk yang sesuai dengan lidah Yulia. Yulia melihat beberapa lauk di piring terhidang sangat cantik. "Ayo di makan. Kamu harus isi perut, terus obat juga jangan lupa di minum," ucap Hardi, dia serahkan obat vitamin pada Yulia. Yulia masih heran, dia bingung. Darimana asal lauk dia suka itu, bisa diketahui oleh Hardi. Apakah Hardi bertanya pada Samuel. Hanya Samuel yang tau makanan favoritnya. "Aku tau makanan favorit kamu, dari Samuel. Dia sering cerita tentang kamu. Aku harap kamu gak benci dia. Mungkin ada alasan lain kenapa dia gak kata sesuatu saat hubungan kamu dan dia ..." "Nanti saja dibahas, makan dulu," potong Yulia. Dia ambil ayam goreng saus semboi. Kemudian, daging babi kecap, tidak hanya itu sayur kesukaannya tumis selada. Mereka menikmati makanan keadaan hening. Rumah makan khas chienes, jadi non halal. Maka dari itu Hardi sengaja membawanya sebelum Yulia bertanya hal-hal tidak harus dibahas. Beberapa menit kemudian, lauk di meja tinggal sisa tulang dan saus kecap. Yulia dengan lahap menyantap. Padahal dia merasa mual, namun dia melawan agar tidak menjadi wanita yang manja. Setelah dia tau, dirinya hamil. Untuk bisa menjalankan hidup menjadi seorang ibu adalah kuat. Walaupun dia belum siap. Belum siap menghadapi ibunya di kampung. Dia merasa stres. Tidak mungkin dia hidup seorang diri di kontrakan. Apa jadinya nanti para tetangga melihat dirinya. Pasti semakin runyam. Hardi sedang mengetik sesuatu gadgetnya. Kemudian dia beranjak dari duduknya, seakan dia menelepon seseorang. Yulia hanya mengamati obat di tangannya. Lalu beberapa saat kemudian ponselnya bergetar. Ada pesan tapi dengan nomor tidak dikenal. +62 8576332*** Sedang apa? Bagaimana keadaan kamu? Sori, Hanya itu pesan di kontak Yulia. Yulia tidak membalas. Seakan dia tidak ingin melayani orang seperti itu. Mungkin saja salah sambung. Hardi sesekali menoleh, memandang Yulia sedang merenung. Dari seberang, suara David memberitahu kepada Hardi. Bahwa mereka masih di pesawat. "Okelah, aku hanya beritahu saja," kata Hardi. [ "Ya, aku sudah baca. Nanti aku sampaikan ke dia," ] Hardi pun mengakhiri panggilan, kemudian menarik napas. Dia pun kembali ke duduknya. Dan memperhatikan wanita itu. "Kenapa gak diminum obatnya?" tanya Hardi. "Nanti aku minum setelah sampai di kontrakan. Aku ngantuk," jawabnya lesu. Hardi sesekali menyentuh kening Yulia. Yulia kembali demam. "Ya sudah, kita bayar dulu," ucapnya. Setelah Hardi bayar makanan mereka, mereka pun masuk ke mobil, dan meninggalkan tempat rumah makan tersebut. Yulia menyandarkan kepalanya sebagai tempat tidur. Rasanya dia sangat mengantuk. Hardi sengaja menjalankan mobil dengan santai. Dia tidak ingin mengguncang suasana wanita yang sedang berbadan dua. Padahal rumah sakit dan rumah kontrakan Yulia cukup dekat. Hardi saja yang sengaja membawa Yulia keliling sekitar kota, agar dia tidur tenang tanpa ada yang mengganggu. Pesawat Singapore airlines, Samuel terbangun ketika ponsel miliknya dia gunakan sebagai musik tidurnya mengejutkan dirinya. Dia pun membuka ponsel, ada beberapa pesan dari Hardi. Selama di dalam pesawat, Sinyal Samuel sedikit macet. Karena dia menggunakan ponsel jadul, ponsel samsung Galaxy satu. Sedangkan ponsel satu lagi dipegang sama David adalah samsung termahal, ukurannya seperti buku tulis. Perjalanannya masih lama, empat jam lagi. Karena menuju ke Singapore dari asal tinggalnya memakan waktu enam jam dua puluh empat menit lebih kurang begitu. Ada beberapa pesan dari Hardi dimulai tanggal kemarin hingga tanggal sekarang. (Tanggal 06 /10/2011) Hardi : Kau dimana, bro? (Tanggal 11/10/2011) Hardi : Sam, kau absen lagi? (Tanggal 20/10/2011) Hardi : Kau gak bercanda, kan? Hardi : Gimana ceritanya? Hardi : Jadi kau main pigi gitu aja? (Hari ini, 5 menit yang lalu) Hardi : Yulia hamil, aku harus gimana? Samuel membaca satu per satu pesan dari Hardi. Yang dia baca adalah sebuah pemberitahuan. Yulia hamil. Dia bahkan tidak yakin dengan tulisan di sana. Dia melepaskan headset, dan seakan berteriak. Membuat para penumpang yang tengah duduk santai menoleh. David yang baru keluar dari toilet dari tadi kebelet banget. Dikagetkan oleh Samuel. Samuel bukannya merasa malu, malah menarik David segera duduk dan memberitahu sesuatu padanya. "Dia positif, Vid!" ucapnya. David yang belum gena/cerna diucap sama Samuel. "Siapa?" Samuel malah memasang jengkel sama nih bujang. "Sudahlah! Otakmu terlalu lemot!" David cengiran, "Aku uda tau kok, dia, yang kamu maksud ini, kan?" David menunjukan tablet samsung milik Samuel. Samuel menoleh dan memperhatikan dimana Yulia saat terbaring di rumah sakit dengan wajah sedikit pucat. Kemarin Hardi mengambil gambar Yulia saat pingsan. Hardi hanya ingin memberitahu pada Samuel bawa Yulia sangat malang. "Kau dapat dari mana?" dia merebut samsung itu. "Kan ada pengirimnya siapa?" tutur David. Samuel langsung membalas chat ke Hardi. Untuk menanyakan kabar Yulia sekarang. Hardi sedang berdiri di depan kontrakan Yulia. Menunggu Yulia masuk ke rumah. Setelah aman, dia kembali ke mobil dan meninggalkan tempat itu. Ponselnya sedang mati total. Jadi belum sempat dia cas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN