Xavier menggelengkan kepalanya bisa-bisanya sang Putri membuat masalah dengan seorang Damian.
“Kaeta, apa kau tau siapa Tuan Damian?" Tanya Xavier menatap putri semata wayangnya, dari semenjak kepergian mendiang sang istri, Xavier tidak pernah bisa untuk memarahi putrinya.
Jangankan marah, meninggikan suaranya saja tidak pernah. Kaeta mengangguk cepat. “Tau." Jawabnya singkat.
Xavier menarik nafas panjang. “Kalau tau kenapa... "
“Karena dia tampan, Dad, lumayan loh, kapan lagi bisa pegang d**a berotot" Jawabnya santai membuat mata Xavier melebar sempurna.
Astaga! Bagaimana bisa putrinya berpikir seperti itu, pria tua itu menggeleng. “Dia pewaris tunggal Wesley Group, yang kebetulan bekerjasama sama dengan Rumah Sakit milik Mommy mu, Kae! Dan satu lagi dia..." Ujar Xavier menggantung kalimat nya menahan kegemasan nya pada sang putri.
Kaeta tercengang untuk beberapa detik, lalu dia tersenyum lebar. “Bagus dong Dad." Jawabnya. tetapi dia juga penasaran, seorang pewaris kenapa harus menjadi petugas Damkar.
“Apanya yang bagus Kae, Wesley Group terkenal dengan kekejamannya dan kamu bisa-bisanya membuat masalah dengan pewaris tunggal mereka." Sambung Zeta.
Kaeta menoleh, alih-alih cemas dia malah mengembangkan senyum nya penuh dengan percaya diri “Yaelah, santai aja, sekejam apapun mereka, kalau udah melihat pesona seorang Kaeta Calliope Quinn bakalan langsung klepek-klepek." ucapnya sembari mengibaskan rambutnya kebelakang.
Xavier menarik nafas dalam-dalam, dalam hatinya terus berdoa, semoga saja Damian tidak tersinggung dengan prilaku putrinya.
Sementara itu Damian yang baru saja sampai di pos damkar, berjalan dengan langkah lebar, namun dalam hatinya masih terasa geli mendengar Kaeta mendiagnosis tentang kesehatannya.
Tetapi anehnya dia tidak marah dan malah mengiayakan ucapan Dokter gadungan itu. Damian membuka jaketnya dan melemparkannya kearah sofa panjang.
Belum sempat dia menjatuhkan bokongnya di atas sofa, Tiba-tiba ponselnya berbunyi. dia melirik sekilas dan terlihat jelas mana siapa yang muncul di layar ponselnya. “Pria Tua"
Damian tidak ingin mengangkatnya, karena tidak ada hal yang penting, palingan dia hanya diminta untuk pulang oleh sang Ayah.
Tetapi ponselnya terus berbunyi, sehingga membuatnya terpaksa mengangkatnya.
Pria Tua : Dam..
Damian : Oke aku pulang.
Tanpa basa-basi lagi, Damian langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia bangkit dari duduknya dan kembali menyambar jaket yang berada di bahu sofa.
**
“Ini Damian, putraku, Dia yang akan menjadi calon suamimu" Ujar pria tua yang masih terlihat begitu gagah Tuan Wesley, yang memperkenalkan putranya pada seorang wanita cantik.
Damian melirik sekilas kearah wanita yang duduk disebelah Ayahnya itu. tatapannya begitu dingin seakan ingin menghabisi wanita itu detik ini juga.
“Pria tua, sudah berapa kali aku katakan, aku tidak ingin menikah ataupun berurusan dengan perempuan manapun." ujar Damian menghela nafas panjang. “Aku tidak bisa mencintai wanita lain selain Caline." Tegasnya, dia selalu menolak setiap gadis yang di kenalkan oleh Ayahnya.
“Sudah cukup Damian, sadar dan buka matamu, Caline pergi meninggalkanmu demi kariernya, hidupmu masih harus tetap berlanjut. Ayolah.. Berikan Daddy cucu, atau setidaknya perkenalkan wanita yang menurutmu pantas untukmu, jika pilihan Daddy salah."
Tuan Wesley hanya ingin putranya melanjutkan hidup dan hidup bahagia bersama wanita yang di cintainya, pria tua itu tidak memiliki kriteria khusus untuk calon menantunya, yang penting perempuan dan bisa memberikan cucu untuknya.
Pria tua itu juga tidak menentang hubungan Damian dan Caline, tetapi wanita itu sendiri yang meninggalkan putranya, dengan alasan ingin mengejar kariernya terlebih dulu.
Tetapi Tuan Wesley bukanlah orang bodoh yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, beliau tau kemana Caline pergi, Bukan Damian tidak tau, hanya saja cinta membuatnya membutakan segalanya.
“Bagaimana, Dam?"
Damian memutar bola matanya, lalu kembali melihat kearah perempuan yang sejak tadi hanya diam. “Kau, menikahlah dengan pria tua itu dan hasilkan anak untuknya." Titahnya pada perempuan itu membuat Tuan Wesley terbelalak dan langsung melempar bantal sofa kearahnya.
“Kurangajar kau Damian!!" Teriak pria tua itu, sementara Damian hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
Dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita manapun, kecuali... Tiba-tiba saja Damian teringat dengan gadis mungil yang dia temui tadi Rumah Sakit.
Tidak terasa sudut bibirnya terangkat. “Satu Minggu lagi aku akan membawakanmu calon menantu." Ucap Damian.
Tuan Wesley yang masih terengah-engah saking kesalnya dengan sang putra, langsung menoleh. “Benarkah? Siapa?"
“Tunggu saja." Setelah itu Damian langsung pergi begitu saja.
“Paman, bagaimana dengan ku?" Tanya perempuan itu sembari menatap punggung Damian yang semakin menjauh.
Pria tua itu menoleh, meskipun sedikit kesal, tetapi ada sedikit kebahagiaan, karena Damian akan membawa seseorang untuk dikenalkan padanya.
“Kau cari pria lain saja, seperti yang kau lihat, Damian tidak tertarik padamu." Jawabannya singkat.
**
Hah
Hah
Hah
Terdenger jelas hembusan nafas panjang yang membuat semua orang menoleh kearah sumber suara. Dia sang primadona fakultas kedokteran, mereka terlalu gemas melihat wajah Kaeta.
“Untung gak telat, masih ada waktu lima menit lagi." Omel Zeta, tumben sekali seorang Kaeta sampai telat.
“Gara-gara bantuin si Duda nyariin dasi." Jawab Kaeta,
“Bantuin nyariin dasi atau lagi mikirin cara deketin Damian?" Zeta menaikan sebelah alisnya.
Kaeta memutar bola matanya dengan malas. “Cih, jangan dulu bahas dia, mood ku jadi berantakan."
Zeta cekikikan. “Kanapa? dia gak datang?"
“Hmm" Gumamnya, padahal kemarin adalah jadwal Damian untuk kontrol kembali, seharian dia menunggu tetapi pria itu tidak datang.
Kaeta menghela nafas panjang. “Padahal aku udah mempelajari dan hafalin teks edukasi kesehatan jantung." Gumam Kaeta yang masih bisa di dengar oleh Zeta. “Aku udah mendalami peran, biar keliatan perfect di depan dia, tapi sialan, malah di ghosting."
Zeta langsung tertawa pelan sembari menutup mulutnya sendiri, dia tidak pernah menyangka seorang Kaeta sang primadona kampus sampai di ghosting oleh Damian.
“Sekarang aku ngerasain apa yang kamu rasakan Zet." Ucapnya menepuk pelan pundak Zeta yang gemetar, bukan karena takut tetapi dia sedang menahan tawa, agar tidak meledak.
Zeta menganggukkan kepalanya, sekarang dia bisa menertawakan Kaeta yang begitu sering menertawakannya karena Xavier.
Tanpa mereka sadari di barisan paling belakang ada beberapa pria tampan yang memperhatikan setiap mereka berdua dengan rasa gemas.
“Suit.. Suit.. Kaeta!!" Sapa Daniel.
Daniel satu-satunya pria yang berani menganggu Kaeta. Karena baginya Kaeta adalah karya Tuhan yang paling perfect.
“Berisik Daniel!!" Bentak Kaeta, langsung berdiri dan pergi begitu saja, hari ini dia tidak mood untuk mengikuti kelas.
“pfttt.. Mampus" Tawa mereka langsung pecah melihat wajah melas Daniel.
“Bisa gak jangan ketawa? Minimal bantuin deketin Kaeta." Ucap Daniel duduk di sebelah Zeta yang masih cekikikan.
Zeta menggelengkan kepalanya. “Nyerah aja Dan, saingan mu, paman mu sendiri."
Bersambung....