Aroma rumah sakit selalu berhasil membuat Daisy sesak. Bau disinfektan yang tajam sudah jadi familier, mengingatkannya pada kerapuhan hidup kakeknya akhir-akhir ini, Genji Hyuga Sangaji.
Sambil memeluk erat bundel draf pengajuan skripsi yang baru saja penuh dengan coretan tinta merah dari dosen pembimbing, Daisy melangkah cepat menyusuri koridor paviliun VIP di rumah sakit RMC.
Pikirannya masih terbagi antara revisi-revisi tugas akhirnya yang belum disetujui yang rumit dan kekhawatiran akan kondisi Kakek Genji yang terus menurun. Namun, langkahnya terhenti saat melihat pemandangan tidak biasa di depan pintu ruang rawat. Dua pria berbadan tegap dengan setelan hitam berdiri kaku—penjagaan yang terlalu ketat untuk ukuran kakeknya yang sudah tak memerlukan itu karena cukup dijaga keluarganya setelah lama selesai menjabat sebagai Menteri dan pensiun.
Ada kursi roda juga tidak jauh, tapi jelas jenis kursi rodanya bukan dari rumah sakit lebih ke milik pribadi.
Siapa yang datang menjenguk Opa? batin Daisy.
Ia baru saja hendak mendekat ketika pintu terbuka sedikit, memperlihatkan sosok Catur Aji Jagaraga di dalam sana. Sahabat karib kakeknya, sang legenda mantan orang nomor satu negara ini, yang auranya selalu terasa mendominasi ruangan. Daisy memutuskan untuk tidak menginterupsi. Ia memilih duduk di kursi tunggu yang dingin, mencoba merapikan tumpukan kertas di pangkuannya meski jantungnya berdegup tidak tenang.
Hening koridor itu tiba-tiba pecah oleh suara langkah sepatu pantofel yang tegas dan berirama.
Tap! Tap! Tap!
Daisy mendongak. Seorang pria muncul dari belokan koridor. Ia berjalan dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi bahkan dalam ruangan masih menggunakan kaca mata hitamnya, seolah lantai yang dipijaknya adalah miliknya. Para penjaga di depan pintu tidak menghalanginya, justru menunduk hormat. Daisy terpaku. Pria itu mengenakan setelan abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang keras, lalu ia menurunkan kaca matanya hingga Daisy bisa menemukan tatapan mata yang... sangat tidak ramah.
Langkah pria itu melambat tepat di depan Daisy. Bukannya terus masuk ke dalam ruangan, ia malah berhenti. Ia berdiri menjulang di hadapan Daisy, menciptakan bayangan besar yang menelan tubuh mungil gadis itu.
Daisy merasa tidak nyaman. Tatapan pria itu terasa tidak sopan—ia menelusuri Daisy dari ujung rambut, turun ke wajahnya yang tanpa riasan tebal, hingga ke tumpukan kertas skripsi di pangkuannya. Itu bukan tatapan kagum, melainkan tatapan seperti seorang pembeli yang sedang menilai kualitas barang dagangan.
“Daisy Raqeela? Jadi, ini rencana kakek tua itu memintaku datang...” suara pria itu berat, rendah, dan memiliki nada yang sangat maskulin sekaligus dingin.
Daisy mengernyitkan kening. Refleks, ia memeluk bundel draf pengajuan skripsi lebih erat ke d**a. Ia merasa asing, namun pria ini menyebut namanya dengan begitu fasih, seolah nama itu sudah sering ia ucapkan tanpa sepengetahuannya. Lupakan bagian tidak sopannya, menyebut ‘kakek tua’ yang entah diarahkan pada Grandpa Hyuga entah justru kakek Catur Aji Jagaraga.
“Apa maksudnya?” Daisy menjawab ragu. Menatap wajah pria di depannya yang tampak jauh lebih dewasa, lebih matang, dan memiliki guratan pengalaman yang belum pernah Daisy temui pada teman-teman sebayanya di kampus. “Maaf... Om kenal saya, sampai tahu nama saya?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Polos dan jujur.
Seketika, raut wajah pria itu berubah. Matanya sedikit membelalak, otot rahangnya mengeras, dan ia tampak melongo—seolah baru saja ditampar oleh sesuatu yang tidak terduga. ‘Om?’ Panggilan itu sepertinya menghantam harga dirinya telak-telak.
Namun, tawa renyah pecah dari arah pintu. Catur Aji Jagaraga berdiri di sana, memegangi perutnya sambil tertawa geli, pemandangan yang sangat langka bagi pria sekaku dia.
Ia melangkah pelan dengan tongkat ditangannya, sebelum pengawalnya datang membawakan roda.
“Dengar itu, Omara? Om?” Catur menolak duduk di kursi roda, malah mendekati mereka berdua dengan senyum lebar yang menghangatkan suasana. Ia beralih menatap Daisy dengan lembut, lalu mengusap puncak kepala gadis itu dengan kasih sayang seorang kakek.
“Daisy, Sayang... apa pria di depanmu ini sudah terlihat setua itu sampai kamu memanggilnya 'Om'?” goda Catur.
Pipi Daisy seketika memanas. Ia merasa ingin tenggelam ke dalam lantai rumah sakit saat itu juga. “Maaf, Kakek Catur... saya tidak bermaksud... saya pikir, uhm dia...”
“Tidak apa-apa, Nak. Itu wajar,” Catur terkekeh, lalu tangannya beralih menepuk bahu pria yang tadi dipanggilnya Omara. “Daisy, perkenalkan. Ini Omara Akssa Jagaraga. Cucuku.”
Daisy mengangguk sopan, meski rasa canggungnya sudah mencapai ubun-ubun. Namun, kalimat Catur selanjutnya membuat seluruh dunia Daisy seolah berhenti berputar.
“Dan seperti yang sudah pasti sering disampaikan kakekmu, Hyuga, juga orang tuamu... Omara adalah pria yang akan menjadi suamimu, Daisy.”
Deg!
Draf di tangan Daisy nyaris merosot jatuh. Seluruh oksigen di koridor itu seolah tersedot habis. Suami? Pernikahan? Ia memang tahu ada pembicaraan keluarga tentang 'perjanjian lama', tapi ia pikir itu hanya sekadar bualan masa lalu yang tidak akan pernah diwujudkan di era modern seperti ini. Ia baru saja akan memulai bab baru hidupnya sebagai sarjana, dan sekarang... dia dijodohkan dengan pria yang baru saja ia panggil 'Om'?
Daisy memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap Omara. Di sana, tidak ada sorot mata hangat atau penuh pengertian. Yang Daisy lihat justru sebuah seringai tipis yang sangat menyebalkan tersungging di bibir pria itu. Seringai yang entah apa maksudnya?
“Sekarang bagaimana, Daisy?” suara Omara terdengar lagi, kali ini lebih jelas, seolah sengaja ingin membalas ejekan 'Om' tadi. “Masih mau memanggil calon suamimu dengan sebutan 'Om' seperti barusan?”
Daisy membeku. Ia menatap mata kelam Omara. Lalu peringatan dari Kakek Catur kembali terdengar, membelanya, “jaga sikapmu, Omara! Jangan memberi kesan tidak baik di pertemuan pertamamu dengan Daisy. Kamu membuatnya tidak nyaman.” Tegurnya.
Omara menghela napas dalam, dan menatap Daisy yang masih memerhatikannya dengan sedikit gelisah.
“Karena kamu sudah di sini, ikut masuk denganku untuk memberi salam pada sahabatku!” Ajak Catur terarah pada Omara, lalu menatap Daisy, “kamu juga, ikut masuk. Kakekmu sudah menunggu.”
Daisy mengangguk, dan langkahnya juga Omara bertepatan sama-sama hingga terjadi benturan yang mencanggungkan. Daisy hampir terpental, tapi tangan Omara sigap menahannya, meraih tangannya.
Omara menatap wajahnya dari dekat, "kamu tidak apa-apa?"
Daisy buru-buru membenarkan posisinya, kemudian memberi anggukan kaku, "ya."
"Tidak usah salah tingkah lalu gugup karena bertemu denganku, tenang saja calon istri..." bisik Omara yang buat Daisy menatapnya lekat, lalu Omara bersikap tenang seolah tidak pernah mengatakannya dan membuat Daisy terkejut.
Catur Aji memberi senyum penuh makna, "dasar anak muda..." gumamnya, menggelengkan kepala pelan. Berani bertaruh jika pengaturan perjodohan untuk cucu nakalnya itu akan berhasil kali ini.