"Luna ...." Panggilan itu sontak membuat langkah Luna terhenti. Pegangannya pada tangan Bricia otomatis menguat. "Maaf? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kaku. "Kamu kenapa kaku begitu? Kamu tidak ingat sama Opa?" Ada perasaan kecewa yang menyelinap tanpa permisi, menelusuk ke dalam hati Andrew yang biasanya beku. "Saya ingat," balas Luna, masih tetap kaku. "Kamu ada waktu?" Andrew mencoba peruntungannya meski tidak yakin dengan tanggapan Luna. "Untuk?" "Opa mau mengobrol sebentar saja. Bisa?" Meski masih menyimpan kemarahan yang besar untuk pria tua di hadapannya ini, tak ayal ada sedikit rasa kasihan yang ia rasakan melihat wajah sendu Andrew. Diliriknya jam tangannya sekilas. "Saya punya 20 menit. Silakan bicara." Andrew mengedarkan pandangnya ke sekililing halaman sekolah yan

