Ayara segera membalas uluran tangan itu. Bahkan Ayara mencium punggung tangan Arini dengan takzim. “Saya Ayara, Nyonya.” Suara lembut dan sikap yang sopan dari Ayara membuat Arini terkagum. Dia jadi teringat pada mendiang putrinya, Freya. “Kamu bisa menyusui berarti ….” “Iya Nyonya, saya pernah punya anak tapi … anak saya meninggal.” “Ohh, ya ampun. Maaf ya, kamu jadi mengingat anakmu lagi. Tenang saya Sayang, dia pasti bahagia di surga.” Sorot mata Arini begitu lembut. “Iya Nyonya, terima kasih.” Ceklek. “Loh? Anggara?!” Gwen berdiri di ambang pintu. Dia kembali menutup pintu tapi tatapannya tidak lepas dari Anggara yang berdiri tidak jauh dari sofa. Seperti terheran bercampur kaget. “Jangan kaget Sayang, ternyata bukan Anggara yang sakit, tapi ini loh … ibu susunya Alvino yang

