“Oh iya Pak.” Segera pelayan mensterilkan enam botol kaca. Selama lima belas menit Anggara menunggu dengan gelisah. Teringat dengan Ayara yang sedang kesakitan di kamar. Dia mondar-mandir dan membuat pelayan ikut gelisah. “Maaf Pak, kalau boleh tahu, istrinya asinya banyak sekali ya Pak sampai ditampung di botol?” “Umm … ya.” Setiap kali pelayan mengatakan istrinya, kening Anggara langsung mnegernyit. Tapi dia sedang tidak ingin mengobrol apalagi berdebat saat ini. Dia hanya ingin cepat. “Oh ya Pak, tapi adik bayinya mau menyusu langsung kan pada ibunya? Kalau tidak mau menyusu langsung, coba Bapak perhatikan putting ibunya, apakah nggak timbul … umm maksud saya, ada ibu yang asinya banyak tapi putingnya kecil sehingga bayi nggak mau menyusu langsung. Nanti coba Bapak perhatikan itu ya

