Senyumnya mengembang melihat Theo sudah menghilang di balik pintu. Namun saat berbalik, sengaja senyumnya hilang berganti raut datar dan sangar seperti biasa. Dia berjalan menghampiri Ayara di bed. Berdeham pelan. “Bagaimana wajahmu, masih terasa sakit?” Ayara tersenyum. “Sudah jauh lebih membaik, Tuan Anggara.” “Ohh baguslah. Badanmu bagaimana? Kata dokter, banyak menemukan lebam bengkak juga di sekujur badanmu.” “Sudah membaik juga. Terima kasih Tuan Anggara, sudah menyelamatkanku, sampai membawaku ke rumah sakit.” Ayara tersenyum dengan tulus. “Hemm, tidak masalah. Bagiku mudah saja mengalahkan suamimu itu. Eh tapi, kenapa sih kamu mau-maunya punya suami kasar begitu! Memangnya sudah berapa lama kamu menikah dengan dia?” “Umm baru setahun lebih. Awal kenal dia nggak galak, malah p

