BAB 40. Selimut Biru

1018 Kata

Terpaksa Anggara memejamkan mata. Sebab kalau tidak, bisa-bisa dia akan mulai sulit bernapas. Begitu lebih baik pikirnya, daripada cuma mendongak melihat ke atas. Anggara mencoba merileks-an diri. Dia hanya diam dan menjadi sandaran untuk Ayara. Hanya itu tugas yang harus dilakukan, pikirnya. “Ohh aduhh!” Ayara sponan melepaskan botol ke kasur dan lalu mencengkeram tangan Anggara dengan kuat. Kedua tangan Anggara memang ada di samping tubuh Ayara, seperti sedang menjaganya supaya tidak terjatuh. “Ahh!” Anggara ikut meringis karena ujung-ujung kuku Ayara sampai menancap pada pergelangan tangan Anggara. Selesai memijat, barulah Ayara mulai memompa asinya yang sebelah kanan. Suara derasnya asi yang mengalir ke botol membuat Anggara tergoda untuk membuka mata. Tapi sebisa mungkin dia taha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN