Cepat Ayara mengusap air mata di pipi. Sekarang fokusnya bukan pada ibunya lagi, tapi pada kedua aset kembarnya yang dia tahu sudah peenuh berisi. Terasa nyut-nyutan bahkan sudah menjalar ke sekujur tubuh. Untuk bergerak sedikit saja rasanya tersiksa. Padahal hampir sekujur badannya sendiri masih belum pulih dari lebam dan bengkak. “Ouh, Tuan Anggara …” lirih Ayara pelan. Tanpa sadar dia menyebut nama Anggara. Seakan apapun masalahnya, Anggara akan datang sebagai dewa penolong. “Uhh sakittt,” lirihnya lagi saat mencoba memiringkan badan. Serba salah. Kalau diam saja rasanya semakin nyut-nyutan. Tapi kalau bergerak sedikit saja bukan main perihnya. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ayara membayangkan bibir mungil Alvino sedang menghisap putingnya bergantian. Rasanya pasti lega se

