Tidak sengaja pintu terdorong oleh tangan Rima yang menekan. Gwen langsung menoleh cepat. “Siapa itu?!” seru Gwen spontan. Dan langsung mendengkus malas ketika melihat seorang berseragam pelayan yang berdiri di ambang pintu. “Saya, Nona.” Rima mengangguk sopan. “Huft! Mau apa?!” Gwen merasa terganggu. “Saya membawakan obat sakit kepala, Nona. Tadi Tuan Anggara yang memerintahkan untuk memberikannya pada Nona Gwen di sini.” Gwen mengangkat kedua alis. “Ohh. Ya sudah taruh saja di sana!” Rima meletakkan obat sakit kepala di atas meja nakas. “Silakan diminum obatnya, Nona. Dan pesan Tuan Anggara, jika tidak juga reda bisa dipanggilkan dokter keluarga untuk datang.” Padahal Anggara tidak mengatakan itu. Rima memperhatikan ekspresi Gwen yang semakin terlihat tidak menyukainya. Gwen mende

