Azka membuka pintu apartemen Rebecca kemudian menyalakan lampu. Meletakkan tas kerja dan jasnya di atas sofa kemudian mengamati seisi apartemen yang tampak sepi. Pria itu lalu melangkah masuk ke kamar yang juga gelap gulita.
Kening Azka lantas mengerut. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi Rebecca yang tidak ada di apartemen. Tak butuh waktu lama, wanita itu langsung menjawab panggilannya.
“Halo, Sayang,” sapa Rebecca di seberang telepon. Azka dapat mendengar suara musik yang sangat kencang dari sana.
“Halo,” balas Azka. “Aku ada di apartemen. Kamu di mana?”
“Aku sedang berada di club. Ada pekerjaan yang harus kukerjakan,” jawab Rebecca. “Tunggu aku. Sebentar lagi pekerjaanku selesai.”
“Baiklah,” ucap Azka. “Kamu sudah makan malam?”
“Belum,” jawab Rebecca manja.
“Kamu ingin makan apa? Aku akan membuat makan malam untukmu,” tawar Azka.
“Hm .... Aku mau kamu,” bisik Rebecca dengan nada s*****l yang membuat Azka terkekeh kecil.
“Kalau begitu cepatlah kembali.”
“Tunggu aku di kamar.”
Azka mengulas senyum kemudian memutuskan sambungan teleponnya. Ia lalu beranjak menuju pantry seraya menggulung lengan kemejanya sampai siku.
Tanpa membuang waktu, pria itu langsung memasak makan malam untuk Rebecca. Tangan Azka tampak sangat lihai menggunakan peralatan dapur.
Bukan hanya lihai, pria itu memang sangat mahir dalam masak-memasak. Dan keahliannya itu ia pelajari secara autodidak tanpa ada kursus khusus. Karena pada dasarnya, Azka adalah orang yang cepat tanggap, jadi pria itu sangat cepat menguasai keahliannya memasaknya itu.
Tak butuh waktu lama, sepiring spaghetti telah tersaji di atas meja. Aroma spaghetti tersebut lantas langsung menguar di seisi apartemen.
Seusai membuat spaghetti, Azka kembali berkutat dengan peralatan dapurnya dan membuat jus jeruk untuk sang kekasih. Beberapa saat kemudian, segelas jus jeruk buatannya pun telah berada di atas meja.
Azka menghela napas puas melihat hasil masakannya. Seluruh peralatan masak yang pria itu gunakan pun telah ia bereskan. Sekarang, Azka hanya perlu menunggu kepulangan Rebecca, sang kekasih.
Baru saja pria itu duduk di sofa, wanita yang ia tunggu telah tiba. Tanpa pikir panjang, Azka langsung beranjak untuk menyambut kekasih tercintanya.
Sementara Rebecca yang melihat Azka melebarkan kedua tangan di hadapannya seketika mengulas senyum. Tanpa basa-basi, ia langsung berlari kecil memeluk pria itu dengan erat.
“Aku sangat merindukanmu,” bisik Azka.
“Aku juga sangat merindukanmu,” balas Rebecca.
“Padahal kita bertemu setiap hari. Tapi, kenapa rasa rinduku tidak pernah habis?”
“Dasar perayu ulung.”
Azka terkekeh kecil. “Tapi, aku benar-benar selalu merindukanmu setiap saat. Sekarang pun aku masih merindukanmu.”
“Cih! Semakin hari mulutmu semakin pandai merayu,” cibir Rebecca seraya mencubit perut kekar Azka yang membuat pria pria itu mengeluh sakit.
“Omong-omong, kamu baru saja masak?” tanyanya sembari mendongakkan kepala menatap sang kekasih.
“Mm-hm,” gumam Azka membenarkan. “Ayo,” ajaknya kemudian menarik Rebecca menuju pantry.
Wanita lantas mengulas senyum ketika melihat makanan kesukaannya telah tersaji di atas meja. Ini bukan pertama kalinya Azka memasak makanan sebagai kejutan untuknya. Jadi, Rebecca tak terkejut lagi jika pria itu tiba-tiba memasak untuknya.
“Tadi kamu bilang belum makan malam. Jadi, aku memasak untukmu,” ucap Azka.
“Padahal tadi aku hanya bercanda. Ternyata kamu benar-benar memasak,” ujar Rebecca.
“Aku tidak pernah menganggap semua ucapanmu sebagai candaan,” ucap Azka. “Ayo, cepat makan sebelum dingin.”
Rebecca mengangguk kemudian bergegas duduk di kursi lalu menyantap makanannya yang masih panas. Sementara Azka sendiri duduk di seberang wanita itu. Memandangi sang kekasih yang memakan masakannya dengan lahap.
“Pelan-pelan, nanti kamu tersedak,” sahut Azka.
“Iya,” ucap Rebecca. Meski begitu, wanita itu tetap menyantap makanannya dengan sangat lahap. Hingga mulutnya penuh dan pipi yang mengembang.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Dengan sigap, Azka langsung memberikan jus jeruk pada Rebecca yang tersedak. Pria itu lalu menghela napas karena kekeraskepalaan sang kekasih.
“Sudah kubilang untuk makan pelan-pelan,” omel Azka.
“Tapi, masakanmu terlalu enak untuk dimakan pelan-pelan,” cicit Rebecca.
Azka menggeleng-gelengkan kepala kemudian mencubit pelan hidung wanita itu. Sementara itu, Rebecca hanya menyengir polos. Membuat Azka tak bisa mengomel lebih banyak pada wanita pujaannya itu.
“Kenapa kamu selalu makan seperti anak kecil?” ujar Azka kemudian menyeka sisa saus spaghetti di sudut bibir Rebecca. Bukannya membersihkan tangannya dengan tisu, pria itu justru memakan sisa saus dari bibir sang kekasih yang ia seka.
“Enak, ‘kan?” tanya Rebecca.
“Tentu saja. Masakanku tidak pernah gagal,” ucap Azka dengan bangga.
“Kalau itu aku setuju,” ujar Rebecca kemudian kembali memakan spaghetti-nya di bawah tatapan Azka.
Tak sedetik pun pria itu mengalihkan pandangan dari sang pujaan hati. Bagi Azka, Rebecca adalah segalanya. Terkadang, wanita itu bisa menjadi lebih dewasa dan bijaksana dari pada dirinya.
Terkadang pula, Rebecca bisa bersikap manja seperti ini. Wanita itu selalu mampu untuk menyesuaikan dirinya di segala situasi. Dewasa saat dibutuhkan dan manja saat mereka hanya berdua seperti ini.
Itulah yang membuat Azka sangat mencintai Rebecca.
-------
“Yaya~” seru Zoya seraya berlari kecil menghampiri Navaya.
Sementara Navaya hanya mengulas senyum menyambut kedatangan sang sahabat. Sampai Zoya tiba-tiba memeluknya dengan erat.
“Aku sangat merindukanmu, Yaya,” ucap Zoya yang membuat Navaya terkekeh.
“Kita baru bertemu 3 hari yang lalu kalau kau lupa,” ujar Navaya.
“3 hari itu lama,” rajuk Zoya sembari mengurai pelukannya kemudian duduk di hadapan Navaya.
Saat ini, keduanya tengah berada di salah satu cafe yang menyediakan fasilitas rooftop dengan pemandangan yang memukau. Karena cuaca sore ini terlihat agak mendung, jadi Navaya memilih cafe tersebut sebagai lokasi pertemuan mereka.
“Setelah menikah, kau jadi susah ditemui. Tidak seperti dulu yang langsung berangkat saat kutelepon. Sekarang, kau selalu menolak dengan berbagai alasan. Lelah, tidak mendengar teleponku, belajar memasak, dan berbagai alasan lainnya,” omel Zoya.
Navaya membisu. Setelah menikah bersama Azka, ia memang sering menolak ajakan sahabatnya itu untuk bertemu. Bukan karena tidak mau. Melainkan, Navaya merasa tidak enak kalau Azka mengetahui jika ia sering keluar rumah.
Meskipun Navaya tidak yakin kalau pria itu akan peduli jika ia keluar atau tidak. Tapi, Navaya tetap merasa bahwa ia tak seharusnya keluar lebih sering.
“Maafkan aku, Zozo. Tapi, sekarang aku memang tidak bisa lebih sering keluar,” ucap Navaya.
“Iya, iya. Aku mengerti. Tenang saja, aku tidak marah. Sekarang kau sudah jadi Nyonya Mahadarsa. Jadi, kau harus lebih sering berada di rumah untuk melayani suamimu,” goda Zoya sembari mengedipkan sebelah mata.
Bukannya tersipu malu, Navaya justru merasa sangat bersalah pada sahabatnya itu karena telah berbohong demi menutupi hubungan sesungguhnya bersama Azka.
Bukannya ia tak ingin memberitahu Zoya mengenai masalah itu. Akan tetapi, Navaya hanya butuh waktu yang tepat untuk menceritakannya. Terlalu dini untuk memberitahu Zoya tentang hubungannya dan Azka sekarang.
Navaya mengulas senyum tipis. “Sebagai permintaan maafku, hari ini biar aku yang traktir.”
“Janji! Kau tidak boleh menarik ucapanmu kembali,” tukas Zoya antusias. Tak ingin melewatkan kesempatan itu.
“Tidak akan,” ujar Navaya.
Zoya lantas tersenyum lebar. Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung memanggil pelayan kemudian memesan beberapa makanan dan minuman. Sementara Navaya hanya menatap sendu pada sahabatnya itu.
‘Maafkan aku, Zozo,’ batin Navaya merasa bersalah.
-------
Love you guys~