Navaya menghembuskan napas panjang setelah menutup pintu. Napas yang ia tahan sejak Azka memanggilnya tadi. Percakapan pria itu tadi pun masih terngiang di kepalanya. Dan apa yang ia katakan padanya tadi bukanlah sekadar candaan belaka. Benar. Kini, Navaya telah benar-benar mengerti kenapa Azka lebih memilihnya dari pada Chessy. Ia hanya dijadikan sebagai pemain cadangan yang diam saat tak dibutuhkan dan bermain ketika sudah waktunya. Jika mengetahui fakta itu, mungkin Chessy akan menertawakan dirinya. Jujur saja, ketika Azka memilihnya, meski Navaya merasa tak percaya dan sedikit takut, tapi ada rasa senang yang membuncah di dadaanya. Selama ini di dalam segala hal, Kakak-nya-lah yang selalu lebih unggul. Sementara dirinya hanya berlaku sebagai bayangan yang terkadang bahkan tidak dibu

