Bab 3 - Bunga Dari Wanita Lain

1335 Kata
Ia mengerutkan kening, mencoba memfokuskan pandangannya yang kabur karena sisa air mata. Di layar ponselnya, terpampang sebuah foto yang dikirim oleh nomor asing tersebut. "I-Ini...." Foto itu memperlihatkan Baskara yang tengah memeluk erat seorang wanita cantik di sebuah taman yang remang-remang. Wanita itu menyandarkan kepalanya di d**a Baskara dengan manja, dan Baskara mencium keningnya dengan begitu dalam. "Ya Allah." "S-siapa wanita ini?" Sena bertanya-tanya dalam hati, suaranya tercekat. Ia melihat seksama, walaupun hatinya terasa sakit bukan main. Wajah wanita di foto itu terlihat sangat bahagia dalam dekapan suaminya. "Apa ini yang namanya Sarah? Mantan Mas Baskara?" gumam Sena lirih. Hatinya berdenyut sangat nyeri. Ia memperhatikan bagaimana tangan Baskara melingkar begitu mesra, sebuah pelukan yang penuh perasaan, sesuatu yang sangat kontras dengan perlakuan kasar yang baru saja ia terima. Lalu, mata Sena tertuju pada keterangan tanggal di pojok bawah foto tersebut. "Tanggalnya..." Sena membeku. "Seminggu sebelum kami menikah..." Hanya seminggu sebelum janji suci itu diucapkan di depan penghulu. Saat Sena sedang menjalani masa pingitan dengan hati yang penuh harap dan doa, suaminya justru sedang membagi kehangatan dengan wanita lain. "Pantas saja..." Sena menutup mulutnya, air mata kini luruh lebih deras membasahi cadarnya. "Pantas saja Mas Baskara begitu marah saat Ibu menyebutnya ular. Ternyata bagi Mas Baskara, dia tetaplah dunianya." Kenyataan itu menghantamnya telak. Ternyata selama ini ia bukan hanya tidak dianggap, tapi ia benar-benar hanya menjadi bayang-bayang yang dipaksakan masuk ke dalam hidup seorang pria yang hatinya sudah terkunci untuk orang lain. Sena menyeka air matanya dengan kasar, rasa ingin tahu yang besar tiba-tiba menyeruak di tengah rasa sakitnya. Ia harus tahu siapa orang di balik nomor ini. Siapa yang tega mengirimkan luka sedalam ini tepat di pagi pertama pernikahannya? Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Sena menekan ikon telepon pada nomor asing tersebut. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan nada sambung yang ia harapkan akan terdengar. "Tolong, angkat..." bisiknya penuh harap. Namun, tidak ada nada sambung. Hanya suara operator dingin yang menjawab, menyatakan bahwa nomor yang ia tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Sena mencoba sekali lagi, lalu dua kali lagi, hingga sepuluh kali, namun hasilnya tetap sama. Nomor itu seolah menghilang ditelan bumi tepat setelah misinya mengirimkan kehancuran pada Sena berhasil. "Kenapa? Siapa yang melakukan ini?" Sena menatap layar ponselnya yang kini menggelap. Ia merasa seperti sedang dipermainkan oleh takdir. Nomor itu tidak aktif, meninggalkan Sena sendirian dengan sebuah bukti pengkhianatan yang tak tahu harus ia apakan. Jika ia menunjukkannya pada Baskara, pria itu pasti akan menuduhnya mencari-cari kesalahan Sarah melalui nomor palsu. Atau malah, Baskara mengakui segalanya, karna Baskara takkan peduli dengan perasaannya sebagai istri sah. Dia hanyalah istri yang tak dianggap oleh suaminya. Namun, Sena tak bisa melepaskan Baskara begitu saja. Ada sesuatu yang membuatnya harus tetap bertahan, meski itu sangat amat menyesakkan. Pikiran Sena masih berkecamuk tentang nomor misterius itu saat tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Tok! Tok! Tok! Sena tersentak, mengira itu Baskara. Dengan cepat ia menyeka sisa air matanya dan merapikan cadarnya. Namun, saat pintu dibuka, bukan suaminya yang berdiri di sana, melainkan seorang pelayan hotel yang membawa buket bunga mawar merah yang sangat besar. "Maaf, Ibu. Ada kiriman bunga untuk Bapak Baskara, tapi karena Bapak sedang keluar, diminta untuk diserahkan ke Ibu," ucap pelayan itu sopan. Sena menerima bunga itu dengan bingung. Di sela-sela kelopak mawar, terselip sebuah kartu kecil tanpa amplop. Sena membacanya, dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Terima kasih untuk pelukan seminggu yang lalu. Aku tahu kamu milik orang lain sekarang, tapi hatimu selalu milikku. "Ini pasti ... bunga dari Sarah?" Lutut Sena lemas. Bunga itu langsung ia jatuhkan ke lantai saking kagetnya. Wanita itu benar-benar nyata dan sangat berani mengusik ketenangannya. Di saat yang bersamaan, ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan nomor asing, melainkan nama uminya. Sena menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya sebelum mengangkat telepon. "Assalamu’alaikum, Sayang. Bagaimana kabarmu di sana? Baskara menjagamu dengan baik, kan?" suara lembut uminya terdengar dari seberang sana. Mendengar suara uminya, pertahanan Sena nyaris runtuh. Ia ingin berteriak bahwa ia sedang hancur, bahwa menantunya sedang mengejar wanita lain. Namun, bayangan wajah uminya yang penuh harap membuatnya membeku. Sejak Abi meninggal dunia, Umi hanya memiliki Sena. "Wa’alaikumussalam, Umi... Sena baik. Mas Baskara... sedang keluar sebentar," jawab Sena, berusaha sekuat tenaga menahan isak tangis agar suaranya tidak pecah. "Alhamdulillah. Sena, ingat pesan Umi, ya? Berbaktilah pada suamimu. Kita punya utang budi yang sangat besar pada Bu Lastri. Kalau bukan karena beliau dulu yang mengurus semua keperluanmu saat kecelakaan hebat itu, mungkin Umi sudah kehilangan kamu juga setelah Abi meninggal." Sena terdiam, air matanya menetes tanpa suara. Ia ingat betul saat itu, ia nyaris kehilangan nyawa. Bu Lastri bukan hanya membiayai pengobatannya, tapi wanita hebat itu juga yang mendonorkan darahnya saat stok darah untuk Sena habis. "Bu Lastri sangat menyayangimu, Sena. Beliau memilihmu karena dia tahu kamu adalah mutiara. Jangan kecewakan beliau, ya? Sabarlah menghadapi Baskara, dia hanya butuh waktu untuk melihat ketulusanmu." "Iya, Umi. Sena ingat," bisik Sena parau. Setelah telepon ditutup, Sena menatap buket bunga dari Sarah di satu tangan, dan ponsel berisi kenangan pahit itu di tangan lainnya. Ia terjepit. Ia harus bertahan demi utang budi uminya dan nyawa yang pernah diselamatkan mertuanya, namun ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa ia adalah istri yang tak dianggap oleh pria yang hatinya masih terikat pada wanita lain. Sena membuang buket bunga itu ke tempat sampah di sudut kamar. Ia berdiri tegak, meski hatinya remuk. "Demi Umi, demi Bu Lastri ... aku akan bertahan. Meskipun aku harus menjadi batu yang tak dianggap di rumah ini," tekadnya dalam hati. ** Pintu kamar hotel terbuka dengan kasar. Baskara masuk dengan napas memburu, wajahnya terlihat kacau setelah pencarian yang sia-sia di luar sana. Namun, langkahnya mendadak terhenti di dekat meja kecil sebelum area ranjang. Matanya tertuju pada sebuah buket mawar merah besar yang mencuat dari dalam tempat sampah. Baskara mengenali aroma parfum yang menguar dari bunga itu, parfum Sarah. Dengan tangan gemetar, ia menyambar kartu kecil yang masih terselip di sana. Membaca tulisan di kartu itu, jantung Baskara berdegup kencang. Ia tahu ini dari Sarah. Namun, kemarahan justru membuncah saat menyadari bunga ini berada di tempat sampah. Apa yang dilakukan wanita itu? Apa Sena sudah melihatnya? Apa dia sudah mengadu pada Ibu? batin Baskara penuh kecurigaan. Ia takut jika kejutan dari Sarah ini sampai ke telinga ibunya, maka posisinya akan semakin sulit. "Sena!" bentak Baskara sambil melangkah lebar menuju area dalam kamar. "Apa maksudnya ini? Kenapa bunga ini ada di tempat sampah? Apa kamu sudah menelepon Ibuku untuk—" Kata-kata Baskara terputus seketika. Di dekat meja rias, Sena sedang membelakanginya. Ia baru saja hendak membasuh wajahnya yang sembab, dan kain cadar yang selama ini menjadi penghalang itu baru saja terlepas dari wajahnya. Mendengar bentakan Baskara, Sena tersentak hebat dan refleks berbalik. Untuk sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, waktu seolah berhenti berputar bagi Baskara. Ia terpaku. Suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya melotot menatap wajah di hadapannya. Ia melihat kulit yang jernih, hidung yang mungil, dan bibir ranum yang bergetar hebat karena ketakutan. Namun yang paling melumpuhkan ingatannya adalah sepasang mata bening itu, mata yang terlihat begitu indah. Selama beberapa detik, memori tentang kemarahan, tentang Sarah, bahkan tentang dunianya, seolah menguap begitu saja. Baskara seperti ditarik ke dalam sebuah pesona yang tidak pernah ia duga tersimpan di balik kain hitam yang selalu ia hina. "Astaghfirullah!" Sena tersadar. Dengan gerakan panik dan tangan gemetar, Sena segera menyambar kain cadarnya dan mengenakannya kembali dengan terburu-buru. Ia menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya kembali ke dalam kegelapan. Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar itu. Baskara masih berdiri mematung di tempatnya, tangannya masih mencengkeram kartu dari Sarah, namun matanya tak bisa beralih dari sosok Sena yang kini kembali tertutup rapat. Jantung Baskara berdegup tidak keruan. Ada getaran aneh yang baru saja menyengat sarafnya, sebuah pengakuan yang tertahan di ujung lidah bahwa istrinya yang tak dianggap itu memiliki pesona yang sanggup membuat dunianya goyah hanya dalam satu kedipan mata. "Mas... Mas mau bicara apa tadi?" suara Sena memecah keheningan, lirih dan penuh ketakutan. Baskara berdehem, mencoba mengembalikan kewarasannya yang sempat hilang, meski bayangan wajah tadi masih tercetak jelas di pelupuk matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN