Bab 4: Tawaran Tersembunyi

1461 Kata
Ruangan Ardi yang luas terasa semakin sempit, mencekik. Arsitektur modern dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota Semarang tak lagi terasa indah. Udara dingin dari pendingin ruangan menusuk tulang Amelia, seolah hawa dingin itu datang langsung dari tatapan tajam Ardi. Tatapan Ardi tak terbaca. Itu terus menembus Amelia, mengulitinya. Ia menegang di kursinya, merasakan ketidaknyamanan yang mendalam. Sebuah alarm bahaya berdering keras di dalam benaknya. Ada sesuatu yang sangat tidak beres. Ini bukan sekadar perhatian seorang atasan. Bukan pula soal performa kerja. Firasat buruknya semakin kuat, mencengkeram hatinya dengan erat. "Saya peduli pada karyawan saya, Amelia," ulang Ardi. Suaranya tenang, namun terdengar seperti ular yang melilit mangsanya. Perlahan, mematikan. Ada nada licik yang terselip, sebuah janji palsu yang mengerikan. "Terutama jika karyawan itu punya potensi besar, seperti kamu," lanjutnya. "Dan sedang dalam masalah besar yang mengancam konsentrasimu. Bahkan kehidupanmu." Amelia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering dan pahit, seperti menelan pasir. "Saya... saya rasa saya bisa menangani masalah pribadi saya sendiri, Pak." Ia berusaha terdengar percaya diri, menguatkan suaranya. "Ini bukan hal yang perlu Bapak khawatirkan. Dan saya jamin itu tidak akan memengaruhi kinerja saya di kantor. Saya akan tetap profesional." Nyatanya, suaranya sedikit bergetar, mengkhianati kegelisahannya yang luar biasa. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ardi hanya tersenyum tipis. Senyum itu sinis, pertama kali Amelia melihatnya di wajah CEO yang selalu profesional itu. Senyum itu tidak mencerminkan keramahan atau kehangatan. Melainkan perhitungan kejam dan licik. Bibirnya membentuk garis tipis yang mengerikan. "Apakah begitu?" Ardi mencondongkan tubuh sedikit. Matanya menyipit penuh intrik. "Saya dengar suami Anda membutuhkan perawatan yang sangat, sangat mahal. Miliaran, bahkan. Angka yang fantastis, bukan?" Ia melanjutkan, nadanya mengejek. "Sangat besar untuk ditanggung sendiri oleh seorang karyawan seperti Anda." Ardi menjeda, menikmati reaksi Amelia. "Dan sepertinya, pintu-pintu lain sudah tertutup untukmu, bukan?" "Bank, keluarga, teman-teman... semua sudah kamu coba, kan?" desak Ardi. "Tidak ada yang bisa membantumu, bukan?" Darah Amelia berdesir dingin, mengalir deras di pembuluh darahnya, terasa seperti es cair. Bagaimana Ardi bisa tahu detail sedalam ini? Seolah-olah dia telah menyelidiki setiap aspek kehidupannya. Setiap gerak-geriknya, setiap percakapannya yang bersifat pribadi. Rasa takut bercampur amarah mulai merayap di dadanya. Seperti racun yang menyebar perlahan, membakar dari dalam. "Bapak... Bapak tahu dari mana semua ini? Bapak menyelidiki saya?" tanyanya, suaranya tercekat, penuh tuduhan. "Jangan salah paham, Amelia," potong Ardi. Tangannya terangkat menenangkan, gesturnya anggun, namun penuh kontrol. "Saya di sini bukan untuk menghakimimu. Atau mengorek privasimu." "Justru sebaliknya," ia melanjutkan. "Saya di sini untuk membantumu. Sangat membantu. Lebih dari siapa pun yang bisa kamu bayangkan." Ia menjeda, membiarkan kata-katanya menggantung di udara. Ketegangan yang menyesakkan tercipta. Amelia semakin gelisah, terperangkap dalam jaring Ardi. Mata tajamnya menatap lekat-lekat, menembus sampai ke dasar jiwanya. Seolah bisa membaca setiap ketakutan dan keputusasaannya. "Membantu?" Amelia mengernyitkan dahi, tidak mengerti sepenuhnya. Ada secercah harapan kecil yang tiba-tiba muncul di benaknya. Seperti setitik cahaya di tengah kegelapan. Namun, harapan itu segera diikuti oleh rasa curiga yang kuat. Sebuah alarm bahaya berteriak di dalam hatinya. Ini terlalu mudah, terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Mana mungkin ada orang yang mau membantu tanpa pamrih sebesar itu? "Bagaimana Bapak bisa membantu saya? Apakah ada program perusahaan untuk ini?" tanyanya. Suaranya hampir tak terdengar, tenggorokannya terasa tercekat. Ia tahu pasti ada "harga" yang harus dibayar. Dan harga itu mungkin jauh lebih mahal dari uang. Ardi menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi kulit hitamnya. Menyilangkan tangan di d**a. Postur tubuhnya santai, namun memancarkan kekuasaan yang tak terbantahkan. Ada aura d******i yang kuat darinya. Matanya menatap Amelia lekat-lekat. Menilai setiap reaksinya, setiap kedipan matanya, setiap getaran kecil di bibirnya. "Saya punya akses ke dana yang sangat besar." "Jumlah yang kamu butuhkan itu, miliaran rupiah, bukan masalah bagi saya," lanjutnya. "Itu hanya angka kecil dalam laporan keuangan pribadi saya. Sebuah angka yang bahkan tidak akan terasa di dompet saya." Harapan kecil yang tadi muncul tiba-tiba membesar di hati Amelia, seolah ada pintu penyelamat terbuka di depannya. Namun, segera padam oleh insting yang memperingatkan akan bahaya yang mengintai di balik janji manis itu. Ini terlalu mudah. Terlalu sempurna. Terlalu mencurigakan. "Apa... apa syaratnya, Pak? Tidak mungkin Bapak membantu saya tanpa imbalan, kan?" tanyanya, nyaris berbisik. "Syarat?" Ardi mengangkat sebelah alisnya. Ekspresinya sedikit geli, seolah Amelia baru saja mengatakan hal yang lucu atau naif. Ada seringai tipis di bibirnya. "Bukan syarat yang rumit, Amelia. Anggap saja sebagai 'investasi'," ucapnya. "Saya membantu masalahmu, dengan sejumlah besar uang itu. Uang yang akan menyelamatkan suamimu." "Dan kamu... membantu saya," Ardi melanjutkan. "Kita saling menguntungkan. Sebuah simbiosis mutualisme." Senyum licik kembali terukir di bibirnya, semakin lebar. Amelia tidak mengerti sepenuhnya. Namun hatinya sudah berdebar tak karuan. Firasat buruk semakin menjadi-jadi. "Membantu Bapak bagaimana? Dalam pekerjaan? Proyek baru perusahaan? Ada tugas rahasia?" Ardi bangkit dari kursinya. Melangkah perlahan mengelilingi meja kerjanya yang luas. Langkahnya tenang, namun terasa mengancam. Seperti predator yang mengintai mangsa. Udara di ruangan itu terasa semakin dingin. Seolah Ardi membawa aura es bersamanya, membekukan suasana. Amelia merasa terpojok. Instingnya berteriak untuk lari. Untuk menghindar sejauh mungkin dari pria ini. Ia ingin sekali berlari keluar dari ruangan ini. Dari kantor ini. Dari kota ini. Tapi kaki-kakinya terasa lumpuh, tak bisa digerakkan. Seolah terpaku di lantai. Ardi berhenti tepat di depannya, menunduk sedikit. Tatapannya kini berubah menjadi sesuatu yang gelap, lapar, dan sangat tidak senonoh. Tatapan itu menjilat kulit Amelia, membuatnya merinding hingga ke sumsum tulang. "Saya suka caramu bekerja, Amelia. Detail, teliti," bisik Ardi. Suaranya rendah dan serak, menggaung di telinga Amelia. "Dan kau punya... daya tarik yang sangat kuat." Tangannya terulur perlahan, seperti ular yang merayap. Sangat pelan dan disengaja. Menyentuh lembut bahu Amelia. Sentuhan itu terasa dingin, menjijikkan, dan penuh nafsu. Amelia tersentak, merinding jijik. Bulu kuduknya berdiri. Ia berusaha menarik bahunya, menjauhkan diri dari sentuhan itu. "Pak, apa maksud Bapak?!" Ia berusaha mundur, menarik bahunya menjauh. Namun kursi itu menahannya, menghalanginya untuk bergerak mundur lebih jauh. Ia merasa seperti terperangkap di dalam sangkar, tanpa jalan keluar. Matanya menatap Ardi dengan campuran ketakutan dan jijik. Ardi tidak menarik tangannya. Jari-jarinya menekan bahu Amelia, sedikit memijat. Seolah ingin meresapi kulitnya, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Tatapan gelapnya menusuk mata Amelia. "Maksud saya jelas, Amelia. Kamu butuh uang. Banyak uang," ucapnya. "Jumlah yang akan menyelamatkan suamumu dari kematian. Saya bisa memberikannya, tunai, dalam sekejap." "Dan sebagai imbalannya... kamu harus bersedia melayaniku," lanjut Ardi. Suaranya semakin rendah, penuh perintah. "Kapan pun dan di mana pun saya mau. Setiap kali saya inginkan. Dengan cara apa pun yang saya minta." Dunia Amelia seolah berhenti berputar. Semuanya menjadi lambat dan buram. Seperti adegan dalam mimpi buruk. Kata-kata itu bergaung di telinganya. Dingin, keji, menghancurkan setiap serpihan harga dirinya. Merobek-robek jiwanya. Melayani? Maksudnya adalah... tubuhnya? Darah dalam tubuhnya mendidih. Mendidih karena amarah yang tak terkendali. Penghinaan yang tak terlukiskan. Dan rasa jijik yang tak terkira terhadap pria di depannya. Matanya memanas, namun ia berusaha menahan air mata. Tidak ingin terlihat lemah di depan pria b***t ini. "Apa?! Bapak gila?!" Amelia memekik. Suaranya tinggi dan penuh kemarahan, bergetar hebat. Ia mencoba bangkit dengan cepat dan melepaskan diri dari sentuhan Ardi yang menjijikkan itu. Ia ingin menampar wajah pria itu dengan sekuat tenaga. Ardi tertawa kecil. Suara tawa itu hambar dan kejam, tanpa emosi. Seolah ia menikmati keputusasaan Amelia. Menikmati setiap tetes air matanya yang tertahan. Ada kilatan sadis di matanya. "Oh, saya tahu itu, Amelia. Justru itu yang membuatnya sangat menarik," Ardi mencibir. "Sensasinya akan berbeda, lebih menantang." Seringai licik terpampang di wajahnya. "Lagipula, suamumu sedang sakit parah, kan?" lanjut Ardi. "Dia butuh pengobatan yang tak terjangkau olehmu. Apa yang akan terjadi jika dia tidak mendapatkannya? Apa yang akan terjadi jika dia mati karena kau menolak 'bantuan' dariku yang begitu murah hati ini? Kau ingin menjadi janda muda dan miskin, Amelia?" Kata-kata itu seperti belati yang menusuk jantung Amelia. Menusuk berkali-kali, mengoyak-ngoyak hatinya hingga tak bersisa. Bima. Nyawa Bima. Kata-kata itu menghantamnya telak, memukulnya hingga ia tak bisa bernapas. Ia terdiam, tubuhnya membeku, lumpuh oleh ancaman mengerikan itu. Matanya melebar, menatap Ardi dengan tatapan kosong. Mata Ardi menatapnya penuh kemenangan. Seolah tahu ia telah menemukan titik terlemah Amelia. Titik yang paling sensitif dan berharga. Ada senyuman kemenangan yang mengerikan dan menjijikkan di bibirnya. "Pikirkan baik-baik, Amelia," Ardi berbisik, mendekatkan wajahnya. Napasnya yang hangat menerpa telinga Amelia, membuatnya mual dan ingin muntah. "Ini adalah kesempatanmu satu-satunya." "Pintu lain sudah tertutup rapat untukmu," ia melanjutkan. "Nyawa suamumu ada di tanganmu. Di tanganmu, Amelia. Sekarang, putuskan. Uang dan kehidupan suamumu, atau harga dirimu?" Amelia menatap Ardi. Matanya dipenuhi air mata yang belum tumpah, tertahan di pelupuk matanya, membuat pandangannya kabur. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar hebat, tak mampu membentuk kata-kata. Tak mampu mengeluarkan suara. Ia merasa seperti boneka yang tak berdaya. Dihadapkan pada pilihan antara neraka dan neraka yang lebih gelap, lebih dalam, dan lebih mematikan. Pilihan yang akan menghancurkan jiwanya, namun mungkin menyelamatkan cinta sejatinya. Ia hanya bisa menggelengkan kepala, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN