"Re..., bangun." Sayup-sayup Renata mendengar suara sang suami yang memanggil namanya. Perlahan ia pun membuka mata. Bibir hangat Arkan tengah mendarat di keningnya. "Kamu sakit Re?" tanya Arkan lembut. "Mereka bilang kamu tidur dari siang." Renata tak menjawab, ia kemudian meraba perutnya. Sudah lumayan rileks dan mulasnya sudah tak lagi terasa. "Perutku tadi rasanya kenceng banget dan sedikit mulas Mas, jadi aku tiduran." "Kenapa nggak bilang ke aku Re? Apa sekarang kita perlu ke dokter?" tanya Arkan dengan raut wajah khawatir. "Besok aja ya Mas." "Beneran, nggak apa-apa?" Renata menganguk yakin. "Ya udah, sekarang kamu mau makan, ini udah malam? Mas ambilin buat di bawa kesini ya?" "Boleh, tapi jangan banyak-banyak. Aku takut perutku kenceng banget lagi kayak tadi Mas, mules j

