Renata manatap tiga buah test pack di tangan Arkan, air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Ya Tuhan, mengapa takdirnya harus seperti ini, ratap Renata dalam hati. Bagaimana ia harus menghadapi kedua orang tuanya, dia juga lelah jika harus pergi menjauh dari semua orang untuk kedua kalinya. Renata masih teringat betapa menyedihkannya menjalani kehamilan sendirian, dulu saja Rey yang termasuk anteng saat di perut, tak pernah membuatnya muntah hingga selemas tadi. Ada kalanya menginginkan sesuatu yang tak bisa ia cari sendiri. Tetapi untuk menerima Arkan kembali, rasanya masih begitu berat ia lakukan. Bukan karena tak lagi ada rasa bernama cinta, melainkan ketakutannya akan di sakiti lagi. Arkan memeluk tubuh Renata erat. Isterinya tak menolaknya, tetapi hanya diam seperti patung. "Sek

