"Ayah." Suara Farhan menyadarkanku. Gegas kuhapus air mataku dan menahan isakan sebisa mungkin. Kuhela nafas panjang berulang kali untuk menenangkan diriku sendiri. Aku tak ingin Farhan kebingungan karena aku menangis sambil memeluknya. Aku mengurai pelukanku. Kulihat Farhan mendongakkan wajahnya, manik jernihnya menatapku seakan sedang menilai apa saja yang melekat di wajahku. Sekali lagi kuhapus sisa-sisa air mata yang menggantung di sudut mata. Kuulas senyuman semanis mungkin pada bocah itu. "Apa Ayah sedih bertemu dengan Farhan?" tanyanya dengan polos. Usianya baru lima tahun lebih, tapi bicaranya tidak cadel seperti anak-anak pada umumnya. Aku menggeleng cepat. "Tidak, Ayah justru sedih karena baru bisa bertemu dengan Farhan sekarang," jawabku. "Farhan senang akhirnya bisa bert

