Raihan menunduk lalu mengangkat wajahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Aku hanya ingin kamu bahagia. Sejak tahu kamu menyukai gadis itu, aku rasa kalian memang lebih cocok. Dan kamu juga harus tahu, abangmu ini bukan berlagak menjadi pahlawan. Abang hanya ingin semuanya baik-baik saja. Abah, Fatimah, Ustadz Ismail, lalu kamu juga. Dengan menikah dengan Fatimah, Abang harap semuanya akan mendapat kebahagiaan masing-masing." Ragil menggeleng, "Bukan begini caranya, Bang. Sekarang aku tanya, apa Bang Raihan sudah bisa melupakan Lulu dan mencintai Fatimah?" Raihan tersenyum tenang. "Ragil, aku sudah menikah. Mana boleh menyukai wanita lain selain istriku?" "Benar. Memang tidak boleh. Tapi apa Bang Raihan pernah berpikir bagaimana perasaan Mbak Fatimah jika