Balaskan Dendammu

1121 Kata
Lukas menatap ruangan apartemen Alice yang begitu rapi yang terdapat pajangan-pajangan unik, juga rangkaian cantik bunga lily dan mawar merah disetiap sudutnya. Foto-foto Alice bersama ayah dan ibunya juga berjejer di dinding berwarna coklat pastel tersebut. Lukas tebak, orangtua Alice orang-orang yang sangat baik. Senyuman mereka di foto itu terlihat begitu tulus. "Papa, tante Alice memasak spaghetti dan tiramisu! Rasanya sangat enak!" Ocehnya sambil membawa sepiring tiramisu bagiannya dengan mulut belepotan. Sebelum memberitahu ayahnya, rupanya dia sudah memakan beberapa potong tiramisu yang seharusnya menjadi makanan penutup. "Astaga sayang, sampai belepotan! Jangan merepotkan tante Alice..." Lukas mengusap bibir putranya dengan gemas. Jarang-jarang anaknya bisa tertawa sebebas ini. Karena dirumah Oliver selalu menjadi bahan cibiran ibunya dan Gracia, mentang-mentang dia anak dari Olivia. Wanita yang dianggap tidak pantas untuk melahirkan keturunan Abraham. Jika bukan karena ancaman mati dan lain-lain dari Paula, mungkin Lukas sudah pergi bersama putranya dari dulu. Ia juga tidak akan menikah dengan Gracia. Apalagi papanya memiliki penyakit jantung. Berbeda dengan ibunya, Abraham sangat sayang dengan Oliver dan tak mau pisah. Papanya adalah petimbangan terbesar dirinya untuk tetap tinggal serta menuruti perkataan ibunya. Lukas takut jika melawan dan membuat keributan, penyakit papanya akan kambuh. "Tidak merepotkan, justru aku senang dia disini." Alice membawa nampan berisi tiga piring spaghetti untuk makan malam mereka. "Ayo makan, maaf kalau kurang pedas. Aku takut Oliver tidak suka." "Tidak apa, makasih udah perhatian sama Oliver." Lukas tersenyum canggung sambil menatap tatanan spaghetti di piring tersebut yang terasa tak asing. Cara platingnya mengingatkan Lukas dengan Olivia. Apalagi ketika ia mencobanya sesuap. Rasanya benar-benar mirip dengan buatan mantan kekasihnya itu. "Enak kan Pa?" Ujar Oliver antusias sambil memakan spaghetti yang Alice suapkan. "Enak banget." Alice tersenyum saja. Jika bukan karena menutupi identitasnya untuk sementara, ia sudah menangis sekarang. Ia akan menahan mereka disisinya, termasuk putranya itu. "Maaf jika kami merepotkan. Terimakasih untuk makan malamnya." "Tidak apa." "Oliver, habis makan langsung pulang ya?" Tegur ayahnya. Anak itu tiba-tiba diam sambil menggeleng. Wajahnya berubah begitu kusut dan tak bersemangat. Sepertinya Oliver ingin disana sebentar lagi. Atau bahkan ia ingin menginap. Sangat jarang Oliver bisa bebas bermain seperti sekarang ini. Bisa tertawa dan teriak sesukanya tanpa ada yaang membatasi. Karena nenek dan ibunya selalu saja marah jika ia berisik sedikit saja. "Mama sudah menghubungi papa terus dari tadi. Kita pulang ya?" "Pasti aku dimarahi lagi." Ujarnya, lalu berlari menuju kamar tamu milik Alice yang kebetulan terbuka. Anak itu masuk dengan cepat dan mengunci pintunya dari dalam. "Astaga anak itu! Maaf jika putraku lancang... " Lukas berjalan menuju kamar tersebut dan segera mengetuknya. Alice langsung bercucuran airmata. Jadi putranya juga diperlakukan dengan buruk? Tunggu saja pembalasannya! Mereka tidak akan pernah hidup tenang! "Aku akan membuatmu menderita Gracia! Lihat saja! Airmataku dan putraku, harus kamu pertanggungjawabkan!" Lirihnya pelan. Ia lalu berjalan ke tempat dimana Lukas berada. Dimana pria itu masih berusaha membujuk putranya untuk membuka pintu. "Sayang.... " "Aku tidak mau pulang!" "Memangnya apa yang ibunya lakukan sampai dia seperti itu?" Melihat Alice berlinang airmata ditempatnya, Lukas langsung menatapnya lekat. Lagi-lagi tatapan Alice membuatnya seperti tengah melihat Olivia dihadapannya. Lukas bahkan bisa merasakan sakit yang Alice rasakan. Mereka seperti orang yang sama. "Maaf jika kami mengacau, dan membuatmu terganggu. Lupakan saja yang terjadi setelah ini." "Aku pernah mengandung. Tapi aku tidak pernah melihat anakku setelah melahirkannya. Itulah alasan kenapa aku suka anak-anak dan menyayangi mereka." "Dimana dia?" "Itu masalah pribadiku." Alice mengusap airmatanya seraya menghampiri laci yang ada diruangan depan. Ia mengambil beberapa kunci cadangan kamar, lalu memberikannya kepada Lukas. "Aku paham, rasanya kehilangan orang yang sangat kita cintai." Lukas menerima uluran kunci itu, lalu menarik Alice kepelukannya. Tangisan Alice seketika pecah. Ia langsung tersedu dengan sendirinya tanpa bisa mengontrol perasaanya. Ia terlalu merindukan Lukas! Sangat! "Sangat menyakitkan bukan?" Lirih Lukas dengan isakannya. "Aku merindukannya setiap detik dalam hidupku. Bahkan aku rasa, aku hampir gila. Karena aku mencium harumnya ketika memelukmu. Kehilangannya benar-benar membuat hidupku hancur. Andai aku tidak meninggalkannya malam itu, dia pasti masih disini!" "Aku juga merindukan bayi dan kekasihku. Setiap malam aku memikirkannya. Entah kemana mereka pergi. Takdir sangatlah kejam!" Balas Alice dengan suara bergetar. Bahkan karena mendengar tangisan kedua orang dewasa itu, Oliver langsung membuka pintu. Dia langsung menunduk karena ia pikir, Alice dan ayahnya menangis karenanya. "Seharusnya dia sudah sebesar Oliver." Alice melepas pelukan Lukas, lalu memeluk putra kecilnya dengan isakan yang ia tahan sejak tadi. Sejak ia bertemu Oliver pertama kali. "Kenapa tante menangis?" Oliver mengusap airmata Alice dengan tangan mungilnya. "Tante... sangat bahagia bertemu denganmu." Isaknya. "Oliver juga bahagia." "Tante boleh menganggap Oliver sebagai anak tante kan?" Oliver mengangguk cepat sambil tersenyum, lalu masuk kepelukan Alice yang sudah kembali menangis dengan sangat keras. "Kalian beristirahatlah." "Jadi Oliver boleh menginap?" Tanya anak itu antusias. "Boleh sayang. Tidurlah bersama tante Alice. Papa ingin merokok." Jawab Lukas sambil mengalihkan pandangannya kepada Alice. "Aku pinjam balkonmu." Lukas menunjuk ke arah pintu samping Alice sambil mengeluarkan kotak rokoknya. "Makasih, dan silahkan saja." Ujar Alice yang di hadiahi anggukan saja oleh Lukas. Alice seketika memasang wajah ceria sambil mencium pipi putranya berkali-kali. Ia membawa Oliver ke lantai atas, ke sebuah kamar anak-anak yang penuh mainan. Kamar yang memang sudah Alice siapkan untuk putranya sejak lama. Tentu saja hal itu membuat Oliver sangat senang. Karena dirumah ayahnya, kamarnya hanya kamar biasa dengan satu boneka kesayangannya. Hadiah yang ayahnya berikan untuk pertamakalinya ketika ulangtahun. Sebagai anak-anak wajar jika ia ingin banyak mainan dan kamar yang lucu bukan? Inilah impian Oliver selama ini. Oliver terus memeluk Alice disepanjang ia dibacakan buku cerita. Mungkin sudah sepuluh judul, dan tampaknya anak itu masih tidak mau menutup mata. Dibacakan buku cerita oleh ibu sebelum tidur, juga telah menjadi keinginan terpendamnya. "Mau satu buku lagi?" Alice bertanya dengan antusias. Oliver pun sama antusiasnya ketika menjawab pertanyaan Alice. "Aku senang sekali menjadi anak tante. Mamaku tidak pernah membacakan buku cerita untukku." "Benarkah?" "Aku bahkan sering dimarahi nenek dan mama jika berisik. Padahal aku ingin main. Hanya papa, kakek, dan Joey yang baik padaku." Adunya, yang membuat kepalan jemari Alice semakin erat. "Joey?" "Kucing kecilku. Tapi kucingku sudah dibuang mama karena buang air sembarangan. Sekarang temanku tidak ada lagi!" Alice bersumpah akan segera membuat mereka menderita. Ia bersumpah demi apapun! "Kamu boleh tinggal ditempat mama, kapanpun kamu mau. Mama sangat sayang padamu. Kamu seperti anak mama yang hilang." "Apa dia tampan sepertiku?" Oliver tersenyum sambil memeluk Alice. "Kalian sama tampannya!" Alice kembali meneteskan airmatanya. Ia pun memeluk dan mengusap punggung anak itu hingga tertidur. Dengkuran halus Oliver dan mata kecilnya yang terpejam damai, sungguh menjadi pemandangan terindah yang selalu Alice rindukan. "Akhirnya mama bertemu kamu. Akhirnya kita bertemu." Isaknya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. "Tidak, jangan lemah Alice. Balaskan dendammu, rebut apa yang seharusnya menjadi milikmu! Atau kamu akan kehilangan mereka lagi! Lukas dan Oliver!" "Kamu bukan lagi Olivia!" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN