1
Sepulang kerja, Arini memilih menyendiri di sebuah Kafe. Ia memesan kopi dan cemilan untuk menemani hujan yang tidak berhenti sejak tadi. Mau pulang rasanya malas, mau tetap disini, tapi hawa semakin dingin. Bisa-bisa Arini menggigil dan malah sakit. Raganya masih tetap ingin di Kafe ini sampai malam.
Langit sudah berubah menjadi gelap. Arini tetap setia duduk di kursi yang menghadap ke arah jendela. Menatap hujan yang masih menetes dari langit dan terkena cahaya lampu yang mulai menyala di pinggir jalan. Sangat indah dan benar -benar cantik sekali.
Sudah lama, Arini tidak melihat cahaya lampu yang terkena air hujan. Malah lebih mirip seperti permata yang berjatuhan dari atas langit.
Dulu, Arini menyukai permata, ia bahkan ingin menjadi permata yang sering dikagumi dan di elu-elukan oleh banyak orang. Nyatanya, menjadi permata itu hanyalah sebatas hiasan saja. Bukan untuk dimiliki secara utuh, disayangi dan dihargai.
Matanya terasa panas dan ada cairan mengumpul di pelupuk matanya. Mungkin kalau diteteskan cairan bening itu pasti menetes ke pipi. Bayangan kenyataan pahit itu masih menari di matanya dang itu semua masih sangat terasa sakitnya.
"Permisi ... Kursinya kosong gak? Boleh gabung?" tanya seorang laki-laki yang tengah membawa nampan berisi kopi dan cemilan. Wajahnya nampak serius dan sama sekali terlihat tidak bersahabat.
Arini mengangkat wajahnya dan menatap lekatdua bola mata pria muda yang mengajaknya bicara sambil menoleh ke arah seluruh ruangan kafe. Ternyata kafe itu penuh dan tidak ada kursi kosong. Perasaan setengah jam yang lalu masih sepi. Tapi, rata-rata yang datang laki-laki dengan tubuh tegap dan gagah.
"Kursinya kosong?" tanya pria muda itu dengan nada lebih lembut.
"Ehh ... Iya kosong. Silahkan duduk," jawab Arini sambil mendekatkan barang-barangnya ke bagian depan meja miliknya dan mempersilakan pria muda itu duduk di sampingnya.
"Terima kasih," jawab pria muda itu dengan nada suara jelas. Ia meletakkan nampannya dan mulai menatap kosong ke arah luar jendela sambil menyeruput cangkir kopinya yang masih panas karena kopi itu masih mengebul dari dalam cangkir.
Arini melirik sekilas dan lumayan ganteng, "Upss ... Apaan sih, Arini. Jangan lihat pria dari gantengnya." Arini terus membatin di dalam hatinya. Jangan sampai ia terjebak lagi dengan pria karena fisiknya. Arini tidak mau disakiti untuk kedua kalinya.
"Kenapa? Kok lihatin saya terus?" tanya pria muda itu dengan nada suara tegas tapi tetap terdengar lembut.
Arini begitu kaget, ia sempat melamun sebentar sambil bicara dengan dirinya sendiri tapi kedua matanay tak lepas melihat ke arah pria muda yang ada di sebelahnya. Pria muda itu memang tipenya, badannya bagus banget. Entah kenapa Arini menyukai pria gagah, ia merasa aman saja. Berasa seperti memiliki bodyguard pribadi. Itu sih menurut Arini.
"Ada yang salah? Atau kamu gak ikhlas, saya duduk disini?" tanya pria muda itu sambil melambaikan tangannya di depan Arini.
"Ehh ... Bu -bukan itu. Sa -saya ikhlas kok. Maaf," ucap Arini dengan suara pelan. Ia panik sekali sampai ditegur seperti itu. Bikin malu saja. Kenapa juga, ini mata gak bisa dikondisikan kalau melihat yang kekar begitu.
"Saya Al ..." ucap pria muda itu sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Arini.
"Eumm ... Saya Arini," jawab Arini membalas uluran tangan Al sambil tersenyum ramah. Sebisa mungkin Arini tetap bersikap baik walaupun hatinya masih terasa kacau.
Keduanya kembali diam setelah berkenalan. Rasanya tidak ada energi lagi untuk bertanya hal lain walau sekedar basa basi saja. Untuk menghilangkan rasa canggung, Arini mengambil gelas kopinya dan menyeruput sisa kopi yang sudah dingin.
"Pulang kerja, Mbak?" tanya Al membuka suara lagi.
"Iya Mas," jawab Arini tetap sopan. Arini meletakkan gelas kopinya dan tersenyum pada Al yang menoleh padanya sambil mengajak bicara.
"Kerja dimana?" tanya Al lagi.
"Di Hotel dekat sini," jawab Arini singkat. Lumayan malu juga kalau ditanya apa pekerejaannya. Bagi Arini, kerja di Hotel memiliki makna konotasi yang negatif. Tapi mau gimana lagi. Pekerjaan ini sudah Arini geluti lima tahun dan semuanya terasa nyaman saja.
"Oh ... Di Hotel," jawab Al sambil menatap penamplan Arini dari atas kepala sampai ke bawah sekitar paha. Pakaian seragam Arini agak sedikit terbuka. Maklum kerja di Hotel mungkin tuntutannya memang seperti itu.
Arini mengangguk kecil menghilangkan rasa canggung yang terus merongrongnya, "Mas -nya kerja dimana?" Kayaknya perlu basa basi bertanya balik ke pria muda itu.
"Ehmmm ... Saya?" tanya Al itu sempat memastikan. Terlihat ada kepanikan di raut wajahnya yang terus menghilang dengan rasa tenang.
"Iya kamu. Di sini cuma ada saya dan kamu. Masa saya mau tahu yang lain?" ucap Arini sambil melihat ke arah lain dengan potongan yang sama dengan pria muda di sebelahnya. Badan kekar dan rambut pendek setengah botak. "Mereka teman-teman kamu?" Tunjuk Arini dengan kedua matanya mengarah ke salah satu meja yang dipenuhi dengan pria muda mirip seperti dirinya.
Al itu menoleh sekilas lalu menggelengkan kepalanya, "Bukan. Saya supir. Lagi nunggu bos." Suaranya terdengar serius.
"Oh ... " jawab Arini sambil mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Jangan sampai terjebak lagi dengan pria berseragam yang membuatnya tidak percaya. Pria berseragam itu arogan dan selalu tebar pesona. Satu hal lagi, mereka tidak cukup dengan satu wanita.
"Kenapa?" tanya Al merasa penasaran.
"Gak apa-apa. Saya pikir, kamu satu komplotan dengan mereka" ucap Arini terdengar sengak. Arini berjanji dalam hati untuk membenci pria berseragam loreng.
Kebetulan, Al memang tidak terlihat memakai kaos seragam lorengnya. Ia menutup kaos lorengnya dengan jaket karena tubuhnya sedang rapuh setelah mendengar suara Ibunya. Ya, Ibu yang paling ia cintai dan sayangi itu sedang sakit. Rasanya ingin pulang tapi tidak bisa. Al tahu, pekerjaannya sebagai abdi negara itu berat. Ia harus bisa mengesampingkan urusan pribadinya dan memprioritaskan urusan negara di atas segala-galanya.