Kembali ke latar empat tahun lalu. Setelah mengakhiri hubungannya dengan Davin, Wanda menghabiskan waktunya seharian dengan Mario. Mario tahu seperti apa rasanya patah hati. Dan kali ini ia ingin menjadi orang yang berguna untuk seorang wanita yang sedang patah hati di sampingnya. Mereka berhenti di sebuah warung, memesan soto, gorengan dan teh hangat sambil berbincang. "Jadi, apa rencana kamu setelah ini?" tanya Mario. Wamda tampak menerawang, dengan mulutnya yang masih bergerak mengunyah makanannya. "Pindah dari rumah Davin itu harus. Tapi, jika masih sama saja di Jakarta, bukankah terlalu berisiko jika semua kesalahan itu akan kembali terulang?" balas Wanda. Ucapan Wanda begitu menggantung. Seolah gadis itu sebenarnya sudah punya rencananya sendiri, namun kesulitan untuk menyampai

