Wanda termenung di kamarnya. Ia duduk di kursi belajar sambil menatap ke luar jendela. Malam ini, hujan turun cukup lebat, dan Davin belum juga pulang. Antara sedih dan marah, semua berbaur menjadi satu. Tatapan perempuan itu sangat mengisyaratkan jika pikirannya penuh sekarang. "Sialan! Sekalian aja deh mobilnya kejatuhan pohon atau apa! Orang kayak dia memang perlu pengajaran," umpat Wanda setelah melihat ke arah jam. Sudah jam sembilan lebih, dan Davin masih sama sekali tak menghubunginya. Terakhir Wanda dengar, laki-laki itu tadi siang hendak makan siang bersama Isabell. Namun tidak mungkin, kan, makan siang saja bisa sampai jam sembilan malam belum pulang? "Hilih, paling juga nge-date. Atau malah udah sewa hotel sekalian? Kayak nggak tahu pikiran Davin aja." Akhirnya Wanda bangkit

