Wanda baru saja membuka matanya. Ia bisa merasakan pelukan yang hangat dan nyaman menyelimutinya. Di hadapannya, tersaji wajah rupawan milik pria yang semalam menghabiskan waktu dengannya, Davin. Wanda menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia jadi ragu, apakah ia akan dapat melepas Davin setelah ini. Karena pertahanan yang berusaha ia bangun empat tahun ini sudah berhasil Davin luluh lantakkan sejak semalam. Wanda dapat merasakan pelukan Davin di perutnya mengerat. Ia hanya bisa pasrah. Ia tidak bisa memberi reaksi apapun karena perasaannya yang masih kacau balau. "Sudah bangun, hm?" tanya Davin dengan suara serak. Saat ini tubuh mereka hanya terbalut selimut tebal, yang di dalamnya hanya memakai masing-masing selembar kain kecil yang menutupi bagian paling sensitif tub

