Bab 4: Jerat Obsesi Tuan Muda

1195 Kata
Alana meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih. Pesan dari Kenzie terasa seperti lilitan kawat berduri di lehernya. Ia menatap pil putih di dalam kotak pemberian Nathan, lalu menatap pintu kamarnya yang bergetar karena ketukan ritmis Kenzie. Dunia seolah menyempit, menyisakan Alana yang terjebak di tengah peperangan dua saudara yang sama-sama memiliki sisi gelap. "Pergi, Kenzie! Aku sedang tidur!" teriak Alana dengan suara yang dipaksakan agar tidak terdengar gemetar. "Tidur? Di jam segini? Kamu bahkan belum mencoba gaun yang dikirim Ayah tadi sore," suara Kenzie terdengar santai dari balik pintu, namun ada nada d******i yang tak terbantahkan. "Buka pintunya, atau aku akan menggunakan kunci cadangan. Kamu tahu aku punya akses ke mana saja di rumah ini, Alana." Alana segera menyembunyikan kotak pil itu di bawah bantalnya. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, lalu membuka pintu dengan wajah yang ia buat sedingin mungkin. Kenzie berdiri di sana, masih dengan kemeja hitamnya yang sudah berantakan, bau alkohol samar tercium dari napasnya. "Apa lagi?" tantang Alana. Kenzie tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah masuk, memaksa Alana mundur hingga punggungnya membentur meja rias. Kenzie mengambil sebuah kotak beludru besar dari saku celananya dan meletakkannya di depan Alana. "Pakai ini besok. Aku tidak suka melihat inisial 'K' itu hilang dari lehermu, jadi aku menggantinya dengan sesuatu yang lebih permanen," ujar Kenzie. Alana membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung *choker* emas yang sangat tebal, hampir menyerupai kerah, dengan gembok kecil di bagian tengahnya. Desainnya sangat indah, namun fungsinya jelas: itu adalah simbol kepemilikan. "Ini gila, Ken. Aku bukan hewan peliharaanmu!" "Kamu adalah milikku, Alana. Hewan peliharaan atau bukan, itu tergantung bagaimana kamu bersikap besok di depan tamu," Kenzie mengusap pipi Alana dengan punggung jarinya, gerakannya lambat dan provokatif. "Dan soal pil itu... aku tidak bercanda. Nathan mungkin terlihat seperti penyelamat, tapi obat yang dia berikan itu sebenarnya adalah obat penenang dosis tinggi yang bisa membuatmu koma selama tiga hari. Dia ingin menculikmu saat kamu tidak sadar. Romantis sekali, bukan?" Alana mematung. Benarkah? Apakah Nathan seputus asa itu hingga ingin membius dan membawanya lari tanpa persetujuannya? Ataukah ini hanya taktik Kenzie untuk merusak kepercayaannya pada Nathan? "Aku tidak percaya padamu," desis Alana. Kenzie mengangkat bahu. "Tanyakan saja padanya besok kalau kamu punya nyali. Sekarang, istirahatlah. Aku ingin calon istriku terlihat segar saat aku menciumnya di depan semua orang besok malam." --- Hari yang ditakuti itu tiba. Kediaman Arkananta disulap menjadi tempat yang luar biasa mewah. Ratusan lampu kristal digantung di taman belakang, dan karpet merah membentang dari aula utama hingga ke panggung kecil tempat pertunangan akan diumumkan. Alana duduk di depan cermin, membiarkan penata rias mengubah wajahnya menjadi sosok yang sangat cantik namun tampak rapuh. Ia mengenakan gaun sutra berwarna sampanye yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Dan di lehernya, melingkar choker emas pemberian Kenzie. Ia terpaksa memakainya karena Kenzie mengancam akan menghancurkan karir musik teman baik Alana jika ia menolak. Pukul tujuh malam, Nathan masuk ke kamar Alana. Ia mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya terlihat seperti pangeran dari negeri dongeng. Namun, saat ia melihat kalung di leher Alana, rahangnya mengeras. "Kenapa kamu memakai benda itu?" tanya Nathan dingin. "Aku tidak punya pilihan, Kak," sahut Alana. Ia menatap Nathan melalui cermin, mencari kejujuran di mata pria itu. "Kak, soal pil itu... apakah benar itu akan membuatku koma?" Langkah kaki Nathan terhenti. Ia menatap Alana dengan pandangan yang sulit dibaca. "Kenzie mengatakannya padamu? Dia hanya ingin menakut-nakutimu, Alana. Itu adalah obat untuk memicu reaksi fisik yang tampak seperti serangan jantung. Aku sudah mengatur dokter di rumah sakit agar segera mengeluarkannya dari sistem tubuhmu begitu kamu sampai di sana." "Tapi Kenzie bilang..." "Percayalah padaku, bukan pada si gila itu," potong Nathan. Ia menggenggam tangan Alana yang dingin. "Pesta akan segera dimulai. Saat Tuan Arkananta memintamu naik ke panggung, minum pilnya. Aku akan berada tepat di bawah panggung untuk menangkapmu." Alana mengangguk pelan, meskipun hatinya masih bergemuruh hebat. Ia memasukkan pil itu ke dalam saku gaunnya yang tersembunyi. --- Pesta berlangsung sangat meriah. Musik klasik mengalun indah, dan tawa para pebisnis kelas atas memenuhi udara. Namun bagi Alana, semuanya terasa buram. Ia berdiri di sudut ruangan, mencoba menghindari tatapan Kenzie yang terus mengawasinya dari kejauhan sambil memegang gelas wiski. Puncaknya tiba saat Tuan Arkananta berdiri di atas panggung dan mengetukkan sendok ke gelasnya, meminta perhatian semua orang. "Hadirin sekalian, malam ini adalah malam yang bersejarah bagi Arkananta Group. Bukan hanya karena kesuksesan ekspansi kita, tapi juga karena penyatuan dua orang yang sangat berharga bagi saya," suara Tuan Arkananta menggema dengan penuh otoritas. "Kenzie, putra bungsu saya, dan Alana, putri yang sudah saya besarkan seperti darah daging sendiri." Riuh tepuk tangan membahana. Alana merasa kakinya seperti jeli. Ia melihat Nathan berdiri di barisan depan, menatapnya dengan anggukan kecil yang memberi kode: sekarang. Alana merogoh sakunya. Ia mengeluarkan pil putih itu. Tangannya gemetar hebat. Jika ia meminumnya, ia mungkin akan bebas, atau ia mungkin akan jatuh ke dalam perangkap yang lebih dalam. Jika ia tidak meminumnya, ia akan resmi menjadi tunangan Kenzie malam ini. Tepat saat ia hendak memasukkan pil itu ke mulutnya, Kenzie muncul di sampingnya, secepat kilat. Ia tidak merebut pil itu, tapi ia membisikkan sesuatu yang membuat Alana membeku. "Kalau kamu telan itu, kamu akan tahu apa rasa obat perangsang yang sebenarnya di depan semua orang ini, Alana. Kakakmu tidak memberimu obat pingsan. Dia ingin kamu mempermalukan dirimu sendiri agar Ayah membatalkan perjodohan karena 'perilaku menyimpangmu', lalu dia akan mengambilmu sebagai pihak yang menyelamatkan nama baik keluarga." Alana menoleh pada Kenzie dengan mata membelalak. "Apa?" "Lihat wajahnya," Kenzie menunjuk ke arah Nathan. Alana menatap Nathan. Pria itu tampak sangat tidak sabar, matanya terus terpaku pada tangan Alana. Tidak ada kekhawatiran di sana, yang ada hanyalah antisipasi yang dingin. "Alana, kemarilah, Nak," panggil Tuan Arkananta dari panggung. Alana berjalan menuju panggung dengan otak yang berputar hebat. Ia berdiri di sana, di samping ayah angkatnya, menghadap ratusan tamu. Kenzie berdiri di sisi lainnya, tersenyum lebar seolah-olah ia adalah pria paling bahagia di dunia. "Silakan, Kenzie, berikan cincinnya," perintah Tuan Arkananta. Kenzie mengeluarkan kotak cincin, namun sebelum ia membukanya, Alana melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia mengangkat tangannya yang berisi pil, dan di depan semua orang, ia melemparkan pil itu ke dalam gelas sampanye yang dipegang oleh seorang pelayan yang lewat. Nathan tampak terkejut, wajahnya berubah menjadi sangat gelap. Kenzie justru tertawa pelan, sebuah tawa yang hanya bisa didengar oleh Alana. "Pilihan yang cerdas, Sayang," bisik Kenzie. Kenzie mengambil tangan Alana, hendak menyematkan cincin itu. Namun, tiba-tiba lampu seluruh aula padam. Kegelapan total menyergap. Suara teriakan panik para tamu mulai terdengar. Dalam kegelapan itu, Alana merasa sebuah tangan yang sangat kuat menarik pinggangnya. Bukan tangan Kenzie yang kasar, melainkan tangan yang memiliki aroma kayu cendana yang ia kenal. "Maafkan aku, Alana, tapi aku tidak bisa membiarkanmu memilih cara yang salah," bisik suara Nathan tepat di telinganya. Detik berikutnya, sebuah sapu tangan dengan aroma zat kimia yang menyengat menutupi hidung dan mulut Alana. Alana mencoba meronta, namun kesadarannya menghilang dengan sangat cepat. Hal terakhir yang ia dengar adalah suara Kenzie yang berteriak penuh amarah di tengah kegelapan. "Nathan! Lepaskan dia atau aku akan membakar tempat ini sekarang juga!" Alana pun jatuh ke dalam kegelapan yang dalam, terjepit di antara dua kegilaan yang baru saja dimulai. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN