10. Langkah Yang Tak Boleh Terlewati

1470 Kata
Sebuah acara lamaran sederhana akhirnya dilaksanakan di rumah Avelline. Tidak ada iring-iringan adat khas Kalimantan seperti yang selama ini diimpikan oleh kedua orang tua Eldiro. Tidak ada tabuhan musik tradisional, pakaian adat lengkap dengan simbol-simbol kehormatan keluarga besar. Yang ada hanyalah suasana rumah sederhana di pinggiran kota, dengan kursi-kursi yang disusun rapi, bunga segar di sudut ruangan dan wajah-wajah penuh harap bercampur cemas. Eldiro datang tidak bersama orang tuanya. Dia hanya didampingi om Raka dan tante Sila, adik kandung dari ayah Eldiro yang sejak lama menetap di Jakarta. Tante Sila adalah satu-satunya keluarga yang dengan lantang berdiri di pihak Eldiro, meskipun dia telah diultimatum oleh ibu Eldiro untuk tidak ikut campur dalam urusan keluarga inti. Namun Tante Sila tidak peduli. “Kalau ini soal kebahagiaan keponakan tante, tante enggak akan mundur,” ucapnya pada suatu hari ketika Eldiro menyatakan keinginannya untuk melamar Avelline. Dan ketika Eldiro berkata bahwa orang tuanya tak menyetujui lamaran itu. Bahkan tak hanya mendukung Eldiro, namun dia juga sempat menawarkan diri untuk menanggung seluruh biaya acara, mulai dari lamaran hingga pernikahan. Namun tawaran itu langsung ditolak oleh Eldiro secara halus. Kehadiran tante Sila dan Om Raka saja sudah lebih dari cukup. Dia tidak ingin ada satu pun yang merasa terbebani oleh pilihannya, termasuk keluarganya sendiri. Apalagi hubungan Eldiro dan Avelline memang sejak awal tidak direstui. Bukan hanya karena masa lalu Avelline yang baru saja bercerai, tetapi juga karena perbedaan suku. Eldiro berasal dari keluarga besar Kalimantan yang menjunjung adat istiadat. Sementara Avelline tidak memiliki darah yang sama sekali bersinggungan dengan budaya itu. Namun pada hari itu, semua keberatan, semua penolakan dan perdebatan terasa kecil dibandingkan tekad Eldiro. Ketika cincin pertunangan disematkan di jari manis Avelline, tangan Avelline bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena haru. Air matanya jatuh perlahan. Disambut senyum hangat Eldiro yang berusaha menenangkannya. Setelah prosesi lamaran selesai, pembicaraan langsung mengarah pada tanggal pernikahan. “Saya ingin akad nikah lebih dahulu, resepsi bisa dipikirkan belakangan,” ucap Eldiro mantap. Kedua orang tua Avelline saling berpandangan. Mereka sebenarnya merasa canggung, bahkan malu karena anaknya bahkan baru beberapa bulan bercerai namun sudah hendak menikah kembali. Namun, orang tua mana yang tega melihat anak perempuannya terus larut dalam kesedihan? Apalagi Eldiro menunjukkan kesungguhan yang jarang mereka lihat dari seorang laki-laki. Eldiro tampak sopan dan bertanggung jawab, dia bahkan datang berkali-kali bukan hanya untuk Avelline, namun untuk menghormati keluarganya, dia juga terlihat begitu menyayangi Kaivan. Pada akhirnya mereka mengangguk setuju. Mereka pun tak mau karena status Avelline yang kini seorang janda, maka orang akan menganggap negatif jika ada pria yang sering berkunjung ke rumah mereka. Untuk menghindari fitnah. *** Dan hari ini, sebuah babak baru dalam hidupnya akan dimulai. Pagi itu, rumah Avelline dipenuhi aroma bunga melati dan kenanga. Intimate wedding yang akhirnya disepakati oleh Avelline dan Eldiro digelar di rumahnya yang hanya dihias tenda sederhana dan backdrop yang tak terlalu mewah namun tetap tampak elegan dan berkelas. Avelline telah selesai dirias. Dia duduk di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang hampir tak dia kenali. Wajahnya cantik, bahkan lebih cantik dari yang pernah dia bayangkan. Kebaya putih gading membalut tubuhnya dengan pas, sederhana namun anggun. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi untaian melati yang menjuntai lembut ke belakang. Namun di balik kecantikan itu, hatinya masih bergetar. Ada rasa sedih mengingat bahwa sampai kini orang tua Eldiro belum memberikan restu, teringat pernikahan pertamanya yang digelar mewah karena kedua orang tua Zaven memberikan restu dan mencurahkan yang terbaik untuk pernikahan. Mengingat perjuangan dan cinta Eldiro yang kuat, juga tekadnya untuk membahagiakan Avelline dan Kaivan kelak, membuat Avelline menarik napas panjang mencoba menghilangkah gusar. Mungkin memang ujian pernikahannya di sini dan dia tak boleh menyerah akan impian pernikahan itu. Tak banyak tamu yang diundang. Hanya keluarga terdekat dan beberapa sahabat. Avelline memang meminta demikian. Dia ingin hari itu menjadi sakral, tenang, dan tidak penuh bisik-bisik. Tak lama kemudian, suara motor terdengar dari kejauhan. Eldiro datang. Dia datang dengan motor, membonceng Khalen. Beberapa tamu mulai berbisik-bisik. Terlebih meskipun dibilang intimate wedding namun area rumah Avelline berada di pinggiran kota yang memungkinkan banyak tetangga tetap hadir untuk menyaksikan. Tidak ada iring-iringan mobil keluarga besar. Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang tua Eldiro. Ayah Avelline mengerutkan kening. “Lho, om dan tante kamu ke mana?” tanyanya sopan. “Nyusul di belakang, Pak,” jawab Eldiro sambil tersenyum gugup. Khalen terkekeh. “Dia ngebut, Om. Sudah enggak tahan kayaknya. Keluarganya ditinggal di belakang!” Tawa kecil pecah di antara para tamu. Wajah Avelline memerah. Dia melotot ke arah Eldiro, yang hanya membalas dengan senyum nakal. Namun kegembiraan itu perlahan berubah menjadi ketegangan. Penghulu sudah datang. Waktu terus berjalan. Namun keluarga Eldiro belum juga terlihat. Beberapa orang mulai saling bertukar pandang. Ada sesuatu yang terasa janggal sejak awal, orang tua Eldiro tidak pernah sekalipun menghubungi keluarga Avelline. Orang tua Avelline tak tahu bahwa orang tua Eldiro tak merestui hubungan ini, dia berpikir mereka pasti akan datang saat pernikahan putranya. Namun … sekarang yang ada hanya Eldiro dan Khalen, temannya. Dalam benak ayah Avelline mulai dipenuhi berbagai pikiran, bukankah Jakarta–Kalimantan hanya hitungan jam? Dia mencoba mengajak berbicara penghulu memintanya menunggu sebentar lagi. Beruntung hari ini penghulu hanya menikahkan Avelline dan Eldiro saja sehingga dia bersedia menunggu lagi. Dua puluh menit kemudian, suara mobil terdengar. Bukan satu. Melainkan beberapa. Avelline membeku. Eldiro menatap ke arah jalan, wajahnya pucat. “Aku cuma tahu papah yang datang,” bisiknya. “Tapi ini… kok banyak banget?” Ya memang, pada akhir percakapan kemarin, ayah Eldiro memang akan hadir menyaksikan putranya menikah. Namun tak ada ucapan bahwa mereka akan membawa keluarga lain selain tante Sila dan Om Raka. Mereka semua berdiri menyambut. Pintu mobil pertama terbuka. Ayah Eldiro turun lebih dulu. Disusul seorang wanita setengah baya mengenakan kebaya berwarna emas berkilau, wajahnya masih cantik, riasannya sempurna, sorot matanya tajam. Di belakangnya, seorang gadis muda turun dengan langkah ringan. Rambut sebahunya tergerai, wajahnya ceria. Dia melambaikan tangan ke arah Eldiro. “Itu mamah … ibuku,” bisik Eldiro pelan. “Dan itu Elsheva … adik perempuan aku.” Mata Eldiro berkaca-kaca. Avelline menggenggam tangannya erat. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga terasa sakit. Ayah Eldiro menyalami orang tua Avelline. Senyum yang terukir di wajahnya tampak kaku, seolah hanya formalitas. “Maaf kami baru bisa datang,” ucapnya singkat. “Tidak apa-apa,” jawab Ayah Avelline tulus. “Kami senang keluarga Eldiro bisa hadir.” Namun kejutan belum berakhir. Rombongan keluarga Eldiro membawa banyak sekali parsel, lebih dari yang pernah Avelline bayangkan. Parsel pertama berisi kain adat Kalimantan, kain songket khas Dayak dengan motif burung enggang, simbol kehormatan dan keagungan. Ada pula kebaya adat Kalimantan dengan bordir emas, dipadukan dengan selop kulit khas daerah tersebut. Parsel berikutnya berisi sirih pinang lengkap yang menunjukkan lambang penghormatan dan penerimaan. Kain tenun khas Kalimantan yang melambangkan ikatan dan perlindungan. Perlengkapan busana lengkap sebagai simbol kesiapan lahir batin. Pada parsel selanjutnya ada perlengkapan ibadah, perlengkapan rumah tangga mulai dari bumbu dapur tradisional hingga peralatan mandi, dan juga uang adat yang akan menjadi mas kawin Eldiro untuk Avelline. Ibu Eldiro tersenyum tipis saat menyalami ibu Avelline. “Seharusnya ini dibawa saat lamaran, sesuai adat kami,” ucapnya, dengan penekanan yang terasa seperti sindiran. Avelline menunduk, tersenyum sekuat yang dia bisa. Tangannya dingin. Basah oleh keringat. Ketika ibu Eldiro menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, Avelline merasa seperti sedang diadili. Eldiro menggenggam tangannya lebih erat, diam-diam memberi kekuatan. Panggilan penghulu akhirnya membuyarkan ketegangan itu. Avelline dan Eldiro duduk berdampingan. Akad nikah diucapkan. Satu tarikan napas. Satu kalimat sakral. Dan dalam beberapa detik, mereka resmi menjadi suami istri. Tangis haru pecah. Meskipun restu itu belum sepenuhnya tulus, kehadiran keluarga Eldiro hari itu tetap menjadi pengakuan. Dan sejujurnya itu membuat Eldiro merasakan perasaan yang sangat lega, dia benar-benar tak menyangka ibunya akan hadir di acara pernikahannya, karena ibunya yang selama ini paling menentangnya. Ibu Eldiro tak banyak bicara, dia hanya menyaksikan dalam diam, wajahnya memang tampak kaku namun mata yang berkaca-kaca seolah menjadi saksi bahwa putranya sekarang telah memiliki tanggung jawab lain, sebagai seorang suami. Setelah acara selesai, keluarga Eldiro bersiap pulang. Tante Sila memeluk Avelline erat. “Yang rukun ya, Nak,” ucapnya lembut. “Bahagia selalu.” Avelline menangis terharu. Dia kemudian menyalami ibu mertuanya. Mengecup punggung tangannya dengan penuh hormat. Namun sang ibu hanya diam, tak membalas apa pun. Ketika Eldiro memeluk ibunya, wanita paruh baya itu mengucapkan sebuah kalimat yang terdengar begitu dingin. “Minggu depan ke Kalimantan. Kita adakan acara adat.” Tak bisa dibantah. Eldiro hanya menatap Avelline pasrah. Mereka mengangguk kecil, kehadiran orang tua Eldiro di tempat ini seolah memang hendak menyuruh mereka untuk pulang ke Kalimantan. Setelah semua pergi, Eldiro mendekap pinggang Avelline dan mengecup pipinya. “Kamu apaan sih! Masih siang!” protes Avelline malu. Eldiro berbisik, “Dari sini ke Puncak berapa jam?” “Dua jam.” “Ayo honeymoon!” Dan tanpa memberi kesempatan Avelline menolak, Eldiro menariknya masuk ke kamar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN