Rasa dingin dari lantai marmer masih terasa di telapak kaki Aurora ketika ia melangkah menuju ruang makan keluarga Yunandhra. Rumah itu besar, megah, mahal. Namun pagi itu, hawa di dalamnya terasa lebih menusuk daripada udara luar yang masih diselimuti kabut. Aurora tahu ia tidak dipanggil untuk sarapan bersama. Ia dipanggil untuk diuji. Papah jarang meminta kehadirannya secara langsung. Terakhir kali terjadi adalah tiga bulan lalu, ketika ia diminta menghadiri acara keluarga yang pada akhirnya lebih mirip evaluasi terhadap dirinya. Aurora menarik napas panjang sebelum mendorong pintu ruang makan yang tinggi, berat, dan penuh ukiran. Aroma kopi hitam, omelet, dan roti panggang memenuhi ruangan. Namun tidak ada satu pun aroma itu yang membuatnya merasa nyaman. Yang menyambutnya bukan sua

