Dia Aurora | Bab 8

1391 Kata
Lorong Fakultas Hukum selalu penuh suara: langkah sepatu, pintu kelas ditutup, tawa berlebihan anak-anak yang baru keluar mata kuliah Hukum Acara Pidana. Di antara keramaian itu, Aurora berjalan cepat sambil memeluk laptopnya erat-erat, berharap tidak ada satu pun yang menatapnya lebih lama dari lima detik. Tapi itu harapan yang bodoh. Karena setiap mahasiswa yang lewat pasti menyapa. “Lunaaa! Eh, kok buru-buru?” “Ada rapat BEM, ya?” “Luna, nanti kelas Prof. Rino batal nggak?” Aurora tidak menjawab satu pun. Ia hanya menunduk, makin mempercepat langkahnya, merasa kulit tengkuknya panas oleh tatapan-tatapan itu. Kalau saja bukan karena Luna yang tiba-tiba meninggalkan laptopnya dan menyuruhnya, ia tidak mungkin berada di gedung fakultas ini sekarang. Tempat di mana semua orang memanggilnya Luna. Dan ia benci itu. Sialnya, suara seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang, dalam nada yang benar-benar ia kenal. “Aurora…” Aurora langsung berhenti. Seluruh tubuhnya menegang. Suara itu… suara yang sama seperti di malam pembunuhannya. Pelan, berat, dan seperti seseorang yang tahu seluruh rahasianya. Suara yang tidak mungkin dipanggil orang kampus, karena hanya si pelaku yang menyebut namanya begitu. Aurora menatap refleksi kaca pintu ruang kelas, kosong, tidak ada siapa pun. Tapi suara itu terdengar lagi. Lebih dekat. “Aurora… lihat aku.” Aurora spontan mematikan layar ponselnya, berputar, dan menutup lampu panel kecil di sisi lorong yang membuat area itu sedikit lebih gelap. Napasnya memburu. Ia meraih ponsel dan menekan nama yang paling ia percaya: SAM. “Angkat… angkat, Sam…” gumamnya panik, telapak tangannya berkeringat. Belum sempat Samuel mengangkat, seseorang menarik ponselnya kasar. Aurora terkesiap. Luna berdiri di depannya. Wajah kakak kembarnya itu ditutupi senyum palsu, senyum yang hanya muncul saat ia sedang memainkan perannya. “Roraaa,” Luna meniru nada manis, “kenapa sih lo ngumpet-ngumpet kayak gini? Orang-orang manggil lo dari tadi. Jangan bikin drama lah.” Aurora merebut kembali ponselnya. “Balikin. Gue nggak lagi ngomong sama lo.” Luna mencibir pelan. “Lo tuh aneh banget. Kita udah mau masuk tahap pengumuman pertunangan sama Darren, tapi lo malah kabur ke mana-mana, inget yah soal rencana makam malam bareng keluarga Januarius nanti. Lo sadar nggak, ini tuh kesempatan lo buat naik status? Darren itu—” “—lo yang mau dia.” Aurora memotong dengan nada sinis. Senyum Luna langsung jatuh. “Apa?” “Gue bilang, yang mau tunangan sama Darren itu lo, bukan gue.” Beberapa mahasiswa mulai memperlambat langkah, mengendus drama. Tapi Aurora tidak peduli. Luna menahan rahangnya, tapi suaranya tetap rendah. “Rora, berhenti merasa jadi korban. Lo dipilih. Gue nggak. Jadi tolong… jangan bikin gue terlihat desperate.” Aurora tertawa pendek. “Lo memang desperate. Karena dari dulu lo selalu mau apa yang gue punya. Waktu, teman, bahkan… hidup gue." Tatapan Luna membeku, dingin, berbahaya. Dan Aurora tahu ucapan itu menusuk tepat sasaran. "Lo bisa bujuk Papah Lun, lo bisa minta Darren buat lo dan posisi pewaris bakal tetep ada di tangan lo." “Lo bener-bener nggak tahu diri ya,” desis Luna. “Gue cuma mau lo nurut. Lo pikir keluarga bakalan percaya kalau lo tiba-tiba nolak? Lo selalu jadi anak baik di mata mereka. Jadi bertingkah baiklah sedikit.” “Gue bukan lo, Luna,” balas Aurora. “Gue nggak butuh pura-pura.” Luna mencengkeram lengan Aurora. Kuat. “Denger ya. Lo bakal dateng ke prosesi tunangan itu. Lo bakal senyum. Dan lo bakal—” “Aurora!” Suara bariton yang tegas itu memotong kalimat Luna. Aurora menoleh, merasa legah karena pertolongan akhirnya tiba. Samuel, dengan jas biru tua, kemeja putih rapi, dan dasi yang sedikit longgar, berdiri di ujung lorong. Matanya langsung terpaku ke tangan Luna yang mencengkeram Aurora. Seketika wajah Sam mengeras. Tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat, menarik Aurora dari genggaman Luna, dan memposisikan tubuhnya seperti perisai. “Nggak lucu, Luna,” ucap Sam datar. “Lo bukan anak kecil. Jangan tarik orang seenaknya.” Luna menaikkan alis, menyilangkan tangan. “Wow. Pahlawan kesiangan datang juga.” Sam tidak menggubris. Tangannya masih menahan Aurora di belakangnya. “ Kamu baik-baik aja kan?” bisiknya tanpa menoleh. Aurora hanya mengangguk, walau tubuhnya masih gemetar akibat suara misterius tadi. Luna mendengus. “Kenapa sih lo selalu muncul pas gue lagi ngobrol sama dia? Lo pikir lo siapa hah?” Sam melirik Luna sebentar, lalu berkata datar, “Gue orang pertama yang bakal sadar kalau Aurora butuh bantuan. Itu aja.” Luna mendekat dengan langkah ringan yang dibuat seolah elegan. “Nama dia siapa?” Luna menunjuk Aurora dengan dagunya. Sam menatapnya lama, lalu menjawab tanpa ragu, “Aurora." Mahasiswa yang lewat langsung bisik-bisik. Ini pertama kalinya ada yang menyebut nama itu di gedung fakultas hukum, semua orang hanya mengenal Luna. Tidak ada yang mengetahui Aurora sebagai adik kembarnya. Luna tersenyum miring. “Salah. Di sini dia Luna. Semua orang kenal dia Luna. Yang bikin dia Aurora cuma lo.” Sam mendekat satu langkah. “Berarti lo juga tahu kalau itu bukan nama dia.” Luna terdiam sepersekian detik. Dan bagi Sam itu lebih dari cukup. Sam meraih tangan Aurora. “Gue bawa dia." Sebelum tubuhnya di tarik, Aurora menyodorkan laptop yang Luna titip kepadanya tadi. Ia sempat menatap Luna singkat, dan melihat sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan marah, tapi panik. Seolah Luna mulai takut rencananya berantakan. Tanpa menunggu reaksi, Sam menarik Aurora menjauh dari kerumunan. Mereka berjalan cepat melewati taman fakultas, lalu berhenti di belakang gedung perpus, tempat yang jarang dilewati orang. Aurora akhirnya bisa bernapas. Sam menatapnya serius. “Lo gemetaran.” Aurora mengangguk pelan, "Luna sengaja suruh aku dateng bawain laptop dia. Dia sengaja biarin aku liat kenyataannya sendiri." Gadis itu menunduk, dengan suara gemetar. "Aku ada Ra, aku nggak bakal kemana-mana. Kamu bebas cerita lagi kayak dulu. " " Aku cuman bayangannya Luna, dan itu yang luna mau liat. Luna berusaha deketin aku biar setuju sama perjodohan dengan Darren, tapi aku nolak. Makanya dia seolah nunjukin siapa yang berkuasa." "Aku ada Rora. Aku bisa liat kamu sebagai Aurora. Aku janji bakal lindunin kamu..” Tubuh kecilnya tenggelam dalam pelukan erat Sam. Ingin sekali Aurora menceritakan suara-suara yang ia dengar tadi. Suara yang memanggilnya dalam bisik, suara yang persis sama dengan orang yang mendorongnya jatuh bersimpah darah. Tapi apa yang nanti ada di dalam pikiran Sam? Bagaimana cara Aurora menceritakan kejadiannya yang sesungguhnya? Sam menghela napas panjang lalu menunduk. Jemarinya mengetuk-ngetuk lututnya pelan. “Itu masalahnya. Kamu nggak boleh sendirian, Rora.” Aurora menoleh cepat. “Kenapa kamu jadi sok ngelindungin aku gini sih? Kamu kan seharusnya masih di luar negeri?” Terkait permasalahan keluarganya, Aurora masih penasaran dengan alasan Sam yang tiba-tiba kembali ke Indonesia. Hal yang tidak pernah terjadi di kehidupan lamanya. Sam terkekeh pendek, tapi tidak ada humor di dalamnya. “Nggak usah pura-pura dingin. Kalau aku nggak muncul tadi, Luna bisa makin ngancurin kamu di depan temen-temennya.” Aurora mengepalkan jemarinya. “aku sama sekali nggak anggap dia ancaman terbesar aku kok” “iya, aku tahu kok.” Nada suara Sam berubah rendah. Berbahaya. “Dan itu yang bikin aku balik.” Aurora menatapnya lama. “Sam… kamu balik ke Indonesia karena aku?” Sam diam. Matanya menatap lantai semen. “Jawab,” desak Aurora, suaranya lebih bergetar dari yang ia inginkan. Sam mengusap lehernya pelan, seperti menimbang sesuatu yang berat. “akj balik karena ada… yang harus aku urus di sini.” “Di sini?” Aurora mempersempit mata. “Atau karena aku?” Sam mengangkat wajahnya. Tatapannya dalam dan jujur, tapi menyisakan banyak yang dia sembunyikan. “Dua-duanya.” Jantung Aurora langsung jatuh ke dasar perut. “Sam…” suaranya melemah. Aurora menggigit bibir. “kamu mau bilang apa?” Sam menggeleng cepat, seperti sadar ia hampir membocorkan sesuatu yang seharusnya tidak ia ucapkan. “Nggak penting.” “Sam!” Aurora menepuk pahanya, frustrasi. “Jangan bikin aku tambah takut. Kamu bilang kamu balik buat nyelesain sesuatu. Apa hubungannya sama aku? Apa kaitannya ini sama—” “Sama keluarga kamu.” Aurora terdiam. Sam jarang sekali bicara soal keluarganya sendiri, apalagi keluarga Aurora. Selalu jadi topik yang ia hindari dari dulu. “Aku nggak ngerti,” bisik Aurora. “Kamu tahu apa tentang keluarga aku?” “Banyak.” Jawaban itu pelan, tapi menusuk. Aurora menahan napas. “Sam… apa maksud kamu?” Sam menatapnya lama, seolah berperang dengan dirinya sendiri. “Ada hal yang kami belum tahu tentang sejarah keluarga Yunandhra.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN