Maxel masih memegangi pelipisnya. Rasa sakit itu masih ada walau tidak separah saat awal ia menerima lukanya. Bukannya dia lebay karena terus memegangi luka itu, tapi kenyataannya memang pukulan Bintang terlalu keras di keningnya. "Lo nggak mau pulang, Dit?" tanyanya saat melihat Aditya ikut masuk ke dalam dan duduk di sebelahnya. "Nginep sini aja deh, gue males di rumah sendirian." "Tumben," balas Maxel yang kini beranjak lagi untuk pergi ke arah dapur. "Mau minum apa lo?" tanyanya sambil berteriak. "Nggak usah repot-repot! Kayak gue baru pertama kali ke sini aja!" balasnya dengan berteriak pula. Lalu Aditya menoleh ke kursi di sampingnya. Ada Kania menyusul di sana, wajahnya tertekuk lesu dan membuat Aditya kebingungan karenanya. "Kenapa lo?" Kania menggeleng. "Gue bingung, hubunga