Semilir angin berhembus, seakan menerbangkan jiwa yang masih terpatri dengan raga. Saking kencangnya, sampai insan yang tengah menikmati desiran itu berharap agar semua beban dalam pikirannya ikut terhempas keluar, menjauh dari hati dan kehidupannya. Tapi apa mungkin semudah itu? Setelah dosa yang ia perbuat, tidak akan mudah untuk cuci tangan. Vania menutup sepasang matanya, menikmati sejuknya angin yang lumayan kencang sehingga mengacaukan tatanan rambut panjangnya yang tergerai rapi. Sejenak merasakan sapuan angin nakal itu, saking asyiknya hingga ia merasa beban berat yang ia pikul lenyap sekejap. “Va, ngapain di situ? Ayo masuk, bentar lagi hujan. Nanti masuk angin loh.” Ujar Desi yang cemas melihat putrinya berdiri di belakang rumah sambil menikmati desiran angin kencang, seperti a

