Sepasang mata indah Maria menatap awas dari spion mobilnya, ia sudah duduk santai di belakang kemudi, mengawasi gerak gerik dua orang yang sedang beradu tegang. Tanpa perlu penjelasan apapun, Maria sudah bisa menebak apa gerangan yang menjadi persoalan mereka. Senyum tipis disunggingkan dari lekuk bibir Maria, antara harus prihatin atau biasa saja menanggapi masalah mereka. Saat Maria melihat Vania berjalan menghampiri mobilnya, ia pun segera memperbaiki posisi duduknya dan bersikap tenang seperti tidak tahu apa apa dengan urusannya. Pintu mobil dibuka dari luar, tampak Vania masuk dengan wajah cemberut. Namun menurut Maria ekspresi wajah itu bukan sekedar cemberut melainkan kesal dan sedih. Maria memilih diam, menunggu Vania yang memulai obrolan. “Sorry ya bikin kamu nunggu lama, kita

