“Lo takut terhanyut dan akhirnya lo melewati batas yang lo buat sendiri. Lo takut sama perasaan lo sendiri, Kinara.” ‘Tamia sialan!’ Kinara tahu bahwa kata-kata Tamia itu omong kosong belaka. Omongan orang yang sok paling tahu tentang hidup Kinara. Dia paham bahwa seharusnya dirinya tidak perlu memikirkan kata-kata yang seratus persen ngawur itu sama sekali. Namun, jika seratus persen ngawur kenapa Kinara tidak bisa berhenti memikirkannya? Kenapa Kinara tidak mampu mengenyahkan hal itu dari pikirannya? Malahan, pikiran Kinara dengan kurang ajar memeriksa ulang fakta-fakta yang sudah dipercayainya. Apakah Kinara merasa tidak nyaman dengan sikap Dewa? Bagian di mana pria itu memperkenalkannya kepada orangtua memang menyebalkan. Namun, bagaimana dengan hal-hal di luar itu? Kinara tidak bis

