Kinara tersenyum senormal mungkin. Pesan Tamia berkumandang di benaknya, lumayan berhasil untuk membuat Kinara siap menerima kemungkinan terburuk. “Orangtua saya sudah nggak ada, Om.” “Dua-duanya?” Kinara mengangguk. “Oh, maaf. Om tidak tahu.” Kinara menggeleng. “Nggak apa-apa, Om. Itu kejadiannya sudah lama, dari Kinara kecil banget.” “Boleh tahu karena apa?” Kinara menelan ludah. Sempat tebersit niat untuk berbohong agar tidak terlalu terkesan problematik, tetapi Kinara berpikir lagi, buat apa? Kenapa dia harus memalsukan latar belakangnya sendiri? ‘Que Sera Sera. Whatever will be, will be.’ “Ayah saya pergi dari rumah dan nggak pernah kembali. Ibu saya terlalu sedih ditinggal Ayah, dan akhirnya bunuh diri.” Keheningan terjadi selama beberapa detik. Tante Sindu yang pertama kal

