–Laki-laki Itu Sama!

1210 Kata
Lyara melepaskan putaran lengan kiri Anthony. Dengan kaki terangkat ia berputar dan kakinya tepat mengenai pipi sebelah kiri lelaki gila itu. Tendangannya tepat sasaran. Anthony yang sudah setengah mabuk terhuyung dan menabrak salah satu bilik. Terjerembab di sana. Senyum puas tercetak di bibirnya saat ia melihat Anthony bisa dikalahkannya. Tanpa pukulan tangan. Tapi dengan tendangan. Saat mendarat setelah aksinya itu, Lyara terhuyung saat heelsnya tidak bisa menopang gerakan tiba-tiba itu. Heelsnya patah! Dan ia kehilangan keseimbangan. “Oh!” jeritnya tertahan saat ia tidak jatuh menabrak lantai. Tapi ia tidak jatuh, tubuhnya ditopang oleh sesuatu atau seseorang di belakangnya. Lyara mengerjap saat matanya menangkap wajah berkacamata yang asing tapi terasa tidak asing itu. Setelah beberapa detik yang membingungkan, Lyara merasakan tubuhnya diangkat dan ia kembali berdiri. Dengan kaki tinggi sebelah. “Terima kasih,” ucap Lyara dengan sopan. Ia kembali berbalik pada Anthony yang masih terjerembab di depan pintu bilik. “Tunggu surat panggilan polisi lo!” katanya berang. Kakinya menendang kaki cowok gila itu. Tapi moodnya hancur seketika karena ia tidak bisa berdiri dengan tegap sekarang. Hak sepatunya patah satu! Lelaki gila itu perlahan bangun. Duduk ditopang lengannya, “Lo yang akan dapet surat panggilan polisi. Pulang dari sini gue mau cek visum!” “Cek juga otak lo itu! Agensi gue gak akan tinggal diam! Tunggu aja!” “Mau semahal apapun, seelit apapun, yang namanya jual diri tetep namanya jual diri!” Anthony menggertak. Apa katanya?! Napas Lyara memburu mendengar ucapan itu. ia mendekati Anthony dan berdiri menjulang di depannya. “Gue gak pernah jual diri!” jawabnya dengan desisan emosi. Amarahnya sudah sampai ke kepala. “Lo perlu gue bayar berapa lagi biar bisa lepas rok?” “Anj! Gue akan pastikan lo bayar lebih besok pagi!” Lyara berbalik. Ia tidak akan bisa menahan emosinya jika bertahan lebih lama lagi di sana. Ia masih ingat dengan peringatan sialan itu! Mengabaikan lelaki yang tadi sudah menolongnya, ia melenggang melewatinya begitu saja. Dalam sejarahnya menjadi talent, ia tidak pernah merasa lebih hina dari ini. “Orang gila miskin yang cuma bayar paket paling murah aja sok bisa beli gue!” gerutunya sambil berjalan ke luar dari tempat memuakkan itu. Ia berjalan berjingkat, dengan salah satu heels yang patah. Bibirnya masih menggerutu sampai berada di luar pintu. Heelsnya kembali terantuk pada sudut pintu. Lyara dengan marah melepaskan sepatunya mengambilnya dan menjinjing keduanya dengan kesal. Setelah menghirup udara di luar. Napasnya yang sudah memburu membawa air matanya ikut serta. Lyara menunduk di samping tiang di depan bangunan The Six. Tangisnya pecah. Antara marah, kesal, dan merasa terhina. Lyara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia selalu bisa menghadapi semua obrolan apapun. Selama ini ia selalu bisa menghadapi kesulitan apapun yang dihadapinya. Tapi perlakuan gila seperti ini, ia tidak bisa menolelirnya lagi. “Orang gila!” pekiknya lagi. Ia mengangkat wajah. Menyeka wajah dengan punggung tangan. Menghentikan air mata yang terasa sia-sia jika dipakai untuk menangisi orang semenjijikan itu! Tangannya menggapai heelsnya, mengetuk-ngetuk pada batu di sampingnya. Setiap ketukannya penuh dengan amarah. Kata-kata makian keuar dari bibirnya seraya tangannya mengetuk-ngetuk. “Busuk! Gila!” desisnya dengan amarah memuncak. Prak! Dan sekarang kedua sepatunya sudah tanpa heels. Lyara menarik napas mengusap wajahnya sekali lagi, menutup matanya, mencoba menarik napas lagi lalu mengangguk. ia sudah tenang sekarang. Amarahnya sudah diluapkan dengan baik. Amarahnya sudah keluar bersamaan dengan setiap usahanya mematahkan satu lagi heelsnya itu. Air matanya juga sudah keluar. Dan ia hanya perlu melaporkan apa yang terjadi kali ini. Ia mengangguk. Ia harus segera melaporkannya pada Rakha. Tangannya menggapai udara kosong di sampingnya. Lyara mengerjap. Sebelum matanya melebar dan berdiri. Dimana Dior-nya? Dimana properti perusahaan yang harusnya dijaganya hati-hati itu?! Dia berdiri dan berhenti sejenak. Meraba kedua tangannya tapi tidak ada! Apakah ketinggalan di kursi? Di kamar mandi? Ish, bagaimana bisa ia meninggalkannya begitu saja?! Lyara berbalik dan melihat Lady Dior small berwarna khaki itu berada di depan matanya. Matanya melebar. “Mencari ini?” suara seksi itu menyapa lembut telinganya. Tapi suara tiba-tiba itu membuatnya kaget dan kehilangan keseimbangan. -o0o- Lyara terkejut, membuatnya tidak seimbang, dan hampir saja terjatuh ke belakang. Kalau saja punggung dan kepala belakangnya tidak segera ditangkap lengan kekar itu. Oh, untunglah. Ia akan merasa sangat bodoh jika ia sampai jatuh begitu saja di depan cowok ini. Tunggu! “Pak Raja?” Ia berkedip saat wajahnya dan wajah di depannya hanya berjarak beberapa centi. Dalam jarak sedekat itu, Lyara bisa menghidu wangi parfum maskulin yang segar dan pedas menari di hidungnya. Masih seperti aromanya yang tadi. Matanya menangkap tatapan tajam, pantulan dirinya di kacamata, alis tebal, hidung mancung, dan bibir yang penuh dan menggoda itu. “Dunia kecil sekali sampai kita bertemu untuk kedua kalinya di malam yang sama,” komentar Lyara. Mata Raja berkedip dan Lyara sadar dengan posisi yang sangat menyeramkan ini. Tangannya yang bebas mendorong pelan d**a bidang dan terasa keras di tangannya. Oh, Lyara benci pikirannya sendiri! Tapi ia sudah membayangkan perut kotak-kotak hasil latihan angkat beban di balik kemeja ini. Ia berkedip lagi, dengan tangannya mendorong bahu bidang itu. “Terima kasih, tapi bisakah-“ Kata-kata Lyara tidak terdengar saat bibirnya di serang begitu saja. Mata Lyara terbelalak, lalu mengerjap saat tempelan bibir itu berubah jadi ciuman kasar. Kepalanya yang berada di tangkapan tangan lelaki itu menekannya mendekat. Jantungnya segera bertalu. Tidak! Dengan susah payah, Lyara mengatupkan bibirnya, mendorong bahu lelaki itu kuat-kuat, dan tak berhasil. Ia kalah tenaga dengan lelaki ini. Tangannya mendorong dan memukul sebisanya. Tapi tangan itu begitu erat memegangnya. Menahannya dalam pelukannya. Air matanya merebak. Ia tidak pernah merasa sehina hari ini. Ia tidak pernah merasa terhina seperti sekarang. Saat orang yang tidak dikenalnya dengan mudahnya mencium dan memeluknya, Ia kehabisan napas dan mendapat kesempatan. Ia membuka bibirnya dan menggigit bibir lelaki yang masih rakus melahap bibirnya. Berhasil. Lyara langsung berdiri dengan kedua kakinya, saat lelaki itu mengaduh dan melepaskan punggung dan kepalanya, karena bibirnya yang digigit Lyara. Tangan Lyara mendorong jauh-jauh seraya mundur beberapa langkah. Punggung tangannya mengusap bibirnya yang basah. Napasnya memburu, bahunya naik turun dalam emosi yang menguasainya, dan Lyara marah. Plak! Tamparan tangannya mendarat di pipi kiri lelaki itu. “m***m!” Lelaki itu mematung dengan bibir bengkak dan berdarah, Tangan kanannya berdenyut perih. “Kamu pikir aku murahan? Kamu pikir aku jual diri? Kamu pikir kamu bisa beli aku gitu aja?!” Lyara merasakan kemarahannya memuncak. Diantara napasnya yang memburu. Lyara menahan air matanya. Setelah dilecehkan begitu saja di kamar mandi. Ia juga harus mendapat hal serupa di luar. “Kalian pikir karena kalian punya uang kalian bisa melakukan segalanya?” jeritnya sekali lagi. Lyara berbalik melangkah beberapa langkah tapi kemudian kembali berbalik mendekati lelaki itu. Merebut tasnya yang masih berada di genggaman lelaki itu. “Kamu memang sudah membantuku tadi. Tapi dua kali menciumku dalam semalam itu keterlaluan!” Lyara berbalik lagi, tapi berhenti sebelum melangkah. Bahunya naik turun karena napasnya yang memburu. Sungguh penghinaan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! Ia berbalik lagi, dengan tatapan tajam, Lyara mendekati lelaki yang masih berdiri dengan jempol mengusap bibirnya yang berdarah. “Uangmu tadi bukan untuk membayar apapun dari tubuhku!” Matanya menatap dengan permusuhan yang terang-terangan. Dan lelaki itu mengaduh dalam sekejap. Lyara menurunkan kakinya yang menendang tulang kering lelaki di depannya. Lalu mengangkat jari tengah dan berbalik. Kali ini ia tidak berbalik kembali. -o0o-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN