“Sa, makan siang di luar yuk?” ajak Darma semangat. Namun, pria jangkung yang dia kenal semenjak masa SMA itu sama sekali tak beranjak. Yasa malah fokus mengarahkan pandangannya ke pintu hingga membuat Darma mengerut bingung. ‘Kenapa lagi dengan pria ini?’ batinnya sebelum bertanya, “ada apa sih, Sa? Kamu lagi nungguin siapa?” Hening Yasa belum juga berniat menjawab pertanyaan Darma dan sepertinya, ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya. “Apa ada masalah? Apakah ada sesuatu yang tidak aku tahu?” Yasa menghela napas pelan. “Ini sudah jam berapa?” tanyanya dan jelas saja membuat Darma semakin bertanya-tanya. Mungkinkah Yasa kesal karena dia terlambat mengajak makan siang? Ataukah ada masalah lain? “Pukul 12 lewat 20 menit.” “Harusnya Burhan sudah ada di sini dan membawa makan

