Ruangan itu menjadi hening luar biasa. Atmosfer panas yang sebelumnya melingkupi, telah berubah menjadi suhu dingin yang membuat mengigil. Kedatangan tuan Bisma yang membuat terkejut semua orang, jelas mengusik harga diri juragan Bambang yang telah bangkit dari duduknya. Selama ini tidak ada yang berani melawannya dan orang ibukota yang menjadi buah bibir masyarakat itu justru berani mengganggunya.
“Tidak usah ikut campur urusanku karena kau hanya orang asing di sini.” Usia mereka bisa dikatakan berdekatan dan tuan Bisma sama sekali tak gentar sekalipun juragan Bambang mendekat. Bersama anak buahnya yang sigap menghajar. “pergi dari sini sekarang juga atau kau akan menyesal, tuan Bisma Daniswara.”
Melihat situasi yang kian menegang, Nara pun mengambil tindakan. Dia menghampiri tuan Bisma kemudian menyatukan tangannya di depan d**a. “Dengan segala hormat, saya mohon tinggalkan rumah saya, Tuan. Saya akan kembali besok pagi jika ada pekerjaan yang harus saya lakukan.”
“Apa maksudmu, Nara?” Juragan Bambang lagi-lagi mencengkeram lengan Nara dan semua itu tak luput dari pandangan iba tuan Bisma. “apa kamu pikir bisa hidup bebas setelah menjadi istriku hah?!”
“Lepaskan tanganmu darinya, Bambang!” geram tuan Bisma. Nyaris membuat semua orang yang mendengarnya meringis tertahan. Takut Bambang gelap mata sedangkan tuan Bisma sendirian.
“Sudah aku bilang jangan ikut campur!”
Bugh!
Sabar ada batasnya dan harusnya Bambang tahu jika pria sekelas Bisma Daniswara adalah lawan yang tidak mempan dengan gertakan. Di depan anak buah Bambang yang dari tatapan matanya saja sudah membuat orang lain ketakutan, Bisma Daniswara justru menghantam wajah Bambang yang saat itu juga sudah terjerembap—menyentuh lantai.
Nara memekik tertahan. Sama sekali tidak menyangka, jika tuan Bisma akan bertindak sejauh ini dan setelahnya, sudah bisa ditebak balas dendam macam apa yang Bambang lakukan untuk memberi pelajaran seseorang yang melawannya.
“Hajar dia!”
Nara beranjak. Berdiri di depan tuan Bisma begitu anak buah Bambang maju dan tak disangka, pak Dadang yang berada di halaman ikut masuk. Melangkah tegap bersama beberapa warga yang telah siap dengan tongkat kayu. Menghadang di barisan paling depan karena tindakan semena-mena Bambang memang harus dilawan. Selainnya, tentu mereka tidak mau melihat tuan Bisma yang baik hati itu terluka.
“Ayo maju dan hadapi kami dulu,” ucap mereka kompak hingga membuat nyali anak buah Bambang ciut. Tubuh mereka boleh besar tapi jika lawannya adalah para warga, jelas saja mereka akan babak belur.
Melihat hal itu tuan Bisma melangkah maju. Menyela barisan orang-orang yang tanpa dia tahu akan membantu kemudian menatap Bambang yang begitu menggebu.
“Sebenarnya aku tidak berniat membuat keributan seperti ini tetapi kesombonganmu memaksaku.” tuan Bisma mengendalikan situasi yang bisa saja tak terkendali. “Kedatanganku ke sini adalah untuk menebus gadis itu. Membayar semua hutang yang membuatnya dipaksa menikah denganmu.”
Nara terenyak. Bola matanya yang sembab menatap tuan Bisma yang lagi-lagi membuatnya tak bisa berkata-kata. Demi Tuhan, apa yang pria itu pikirkan sampai melakukan ini semua?
“Aku bukanlah pria tua yang suka berbasa-basi. Jadi cepatlah katakan, berapa jumlah yang harus aku bayar agar kau melepaskannya.”
Dada juragan Bambang kembang-kempis menahan marah. Merasa harga dirinya semakin diinjak-injak apalagi dia belum membalas pukulan yang mempermalukannya di depan semua orang. Lantas, apakah dia akan menyerah begitu saja?
“Aku tidak akan pernah melepaskannya.” Begitu yang Bambang katakan dan sedetik setelahnya, dia telah dibuat sadar. Jika Bisma Daniswara bukanlah seseorang yang bisa dia lawan.
“Kalau begitu, bersiaplah untuk mendekam di jeruji besi karena aku akan menyeretmu ke pengadilan dengan tuduhan pemerkosa, penculik dan lintah darat yang memeras orang-orang miskin di sini. Apa kau kira, para korbanmu tidak akan bersaksi jika aku ada di depan mereka tikus kecil?” tuan Bisma menepuk bahu Bambang yang mengendur perlahan. Pria dengan tatapan tajam itu jelas tahu bagaimana melumpuhkan lawannya yang berotak dangkal seperti Bambang. Dan lihat, Bambang benar-benar tak berdaya saat tuan Bisma melanjutkan.
“Sudahlah ... menyerah saja. Jika kau tidak memperpanjang masalah ini, kau akan mendapatkan uangmu kembali.”
Bambang gemetaran, “Baiklah. Anak buahku akan membawa rinciannya segera.”
Tidak hanya Nara, Rita yang melihat itu semua sampai menutup mulutnya yang terbuka. Pucat luar biasa karena seorang Bisma Daniswara mau membayar mahal agar pernikahan ini batal.
Apa yang sebenarnya pria itu inginkan? Batin Rita penasaran.
“Tu—tuan,” Nara mendekati tuan Bisma lagi. Sungguh situasi ini membuatnya dilema. Di satu sisi dia senang karena pernikahannya dengan juragan Bambang batal tapi di sisi lain, dia tidak mau menanggung hutang budi yang sangat besar. “Tuan tidak harus melakukan hal sebesar ini. Saya tidak mau berhu—“
“Berarti kamu bersedia menikah dengan pria itu?”
Nara terdiam dengan air mata berjatuhan. Memancing respons tuan Bisma yang semakin tidak tega.
“Tidak apa-apa, Nara. Biar aku menyelesaikannya.”
Tak lama anak buah Bambang membawa rincian hutang dan tanpa pikir panjang tuan Bisma melunasinya hanya dengan sekali ketukan. Seolah uang tidak ada artinya dan lagi-lagi, tindakan pria itu membuat semua orang terkesan.
“Semua hutangnya sudah aku lunasi jadi, jangan lagi mengganggu keluarga ini terutama Nara. Mengerti?”
Bambang hanya mengangguk kecil. Sempat dia menatap ke arah Rita kemudian pergi. Meninggalkan Nara yang tidak bisa dia usik selama Rita tidak berulah lagi.
Rita yang tidak bisa melakukan apa-apa pun hanya bisa mengumpat karena rencananya gagal. Memang benar semua hutangnya lunas, tapi bukan seperti ini maunya. Bagaimana pun dia ingin terus memperalat Nara sampai semua keinginannya dan Ajeng tercapai.
“Terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih banyak. Saya akan bekerja keras agar bisa mengembalikan semua uang yang Tuan berikan.” Kali ini Nara bersimpuh di depan tuan Bisma. Menyatukan kedua tangan dengan perasaan yang sungguh tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Penyelamat yang Tuhan berikan datang di saat tepat.
“Tidak apa-apa, Nara. Sudah menjadi kewajibanku untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.” Tuan Bisma menyentuh lengan Nara. “sekarang bangun. Jangan seperti ini.”
Lalu hal mengejutkan setelahnya adalah Rita yang licik ikut mengambil hati. Wanita jahat itu melakukan hal sama. Bersimpuh di depan tuan Bisma dengan wajah dipenuhi kesedihan seraya memeluk Nara dengan sayang. “Terima kasih banyak, Tuan. Sungguh saya tidak tahu bagaimana nasib Nara jika Anda tidak membatalkan pernikahan ini.”
“Pendusta! Kamu sendiri yang memaksa Nara menikahi pria gempal itu untuk menebus hutang, Rita! Jangan pura-pura hilang ingatan!”
Pyar!
Wajah Rita memerah. Tertampar kata-kata bi Asih yang membuatnya malu luar biasa. Apalagi saat tuan Bisma menatapnya dengan tajam. Seolah sedang mencemoohnya dengan kata-kata kasar. Kenapa wanita tua itu harus ada di sini juga? Pikirnya kesal.
“Sa—saya ... saya ....”
“Akhirnya kamu tidak jadi menikah dengan pria jahat itu, Nara.” Bi Asih lagi-lagi menyela. Membuat Rita terdiam dengan tangan terkepal apalagi saat bi Asih menarik Nara menjauh darinya.
“Bibi senang sekali karena kamu selamat dari terkaman para siluman.”
“Semua ini berkat tuan Bisma, Bik,” jawab Nara bahagia dan jelas saja, kebahagiaannya itu membuat kemarahan Rita semakin berkobar.
Apa Nara pikir bisa semudah itu melepaskan diri? Apa Nara pikir, penderitaannya berakhir di sini? Rita membatin licik. Kamu tidak boleh bahagia, Nara. Kamu harus menderita dan tetap menjadi boneka untuk kebahagiaan Ajeng. Aku pastikan kebahagiaanmu tidak bertahan lama. Lanjutnya dengan ribuan rencana di kepala. Namun, semua rencana jahat itu lagi-lagi buyar manakala ...
“Sebelumnya aku ingin minta maaf jika perkataanku lancang, Nara. Namun, bisakah aku mengajukan sebuah permintaan?” tuan Bisma kembali bersuara. Pria itu menatap Nara yang terlihat tegang sampai suaranya terdengar gemetar.
“Silakan, Tuan.”
Hening sesaat sampai akhirnya tuan Bisma melanjutkan, “Dinara, maukah kau menikah dengan putraku?”
Apa?
Nara tercekat. Sama sekali tak menyangka jika permintaan itu yang akan tuan Bisma katakan. Sungguh, apa pun akan dia lakukan untuk pria baik hati yang sudah menyelamatkan hidupnya tapi ... menikahi putranya?
Apakah aku harus menikah dengan putra tuan Bisma yang orang-orang katakan ... gila?
Nara hilang akal. Untuk pertama kalinya dia tidak bisa berpikir dengan benar.
**
“Sudah bangun tuan putri?”
Nara mendesah kecil. Saat ini dia tengah menyiapkan sarapan untuk ayahnya dan tidak bisakah wanita itu berhenti mengganggunya? Sehari saja?
“Andai kamu mau menuruti Ibu, tentu kamu tidak harus menikah dengan pria gila itu,” lanjut Rita saat berdiri di samping Nara yang begitu saja menoleh tak suka. “kenapa? Tidak terima? Hey Nara yang Ibu katakan tadi adalah Fakta. Kamu juga tahu pembicaraan orang-orang mengenai putra tuan Bisma yang memiliki kelainan jiwa alias gila. Kalau ibu jadi kamu, lebih baik Ibu menikah dengan juragan Bambang.”
“Bu ....”
“Eh tapi tidak ada salahnya juga kamu menerima. Meski suami kamu gila, dia tetaplah putra orang kaya raya. Jadi jangan lupa untuk mengirimi kami uang.”
Kali ini Nara tak menghiraukan. Dia melangkah meninggalkan dapur seraya membawa baki berisi makanan untuk ayahnya sekalipun umpatan ibunya kembali terdengar.
Sungguh dia tidak ingin menambah beban pikiran. Semalam suntuk dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan permintaan tuan Bisma dan keputusan yang telah dipilihnya. Jadi, untuk kali ini saja biar dia memutuskan yang terbaik dalam hidupnya.