Prolog

429 Kata
Malam itu Dinara pulang telat. Gadis berusia 18 tahun itu pun cepat-cepat membawa hasil petikan kopinya ke gudang karena hari sudah gelap dan lekas bergegas setelah menutup pintu gudang dengan rapat. Nara mulai mengambil langkah. Bersiap melewati perkebunan yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tempatnya mencari nafkah. Menjadi buruh pemetik kopi juga buruh cuci harian demi menyambung hidup dan membiayai pengobatan ayahnya yang sakit keras. Sebenarnya kehidupan Nara tidak begitu menyedihkan karena dulunya keluarga Nara berkecukupan. Namun, semua berubah saat ayah Nara menikah lagi dan satu persatu harta ayahnya dijual oleh sang ibu tiri. Beberapa kali Nara bergidik. Suasana perkebunan di malam hari memang cukup menguji nyali. Gelap gulita tanpa adanya penerangan dan malam ini Nara harus melewatinya seorang diri. Srak! “Ya Tuhan!” Nara berjingkat. Terkejut luar biasa saat bunyi nyaring itu menggema. Terlebih saat kelebat hitam begitu saja muncul di depannya. Menghadang jalannya dengan tinggi di atas rata-rata yang sampai membuat Nara mendongak—gemetar luar biasa. Ha—hantu? Nara tercekat. Rasa takut luar biasa mendera. Untuk lari pun, dia tidak bisa. Rasanya telapak kakinya menyatu dengan tanah padahal dia meyakini jika hantu itu tidak ada. Namun, di detik selanjutnya ada hal yang lebih mengejutkan sampai detak jantungnya ikut terdengar di sana saat kelebat hitam itu justru berwujud nyata dan telah berhasil mendekapnya begitu erat. Ini bukan hantu tapi orang. “Tolong ...!” teriakan Nara sempat terdengar sebelum bibirnya dibungkam tangan besar yang beraroma menyengat. Begitu asing di indera penciuman sampai membuat perutnya terasa mual. “Diam!” Kata pertama dan kata terakhir yang Nara dengar sebelum tubuhnya diseret dan ditelentangkan. Dibuat menghantam tanah yang keras dan ditindih tanpa perasaan oleh pria b***t yang tidak bisa Nara lihat bagaimana rupanya. Tolong ... tolong aku. Hiks! Rintihan dan isak tangis Nara teredam gelapnya malam pun kicau burung malam yang saling bersahutan. Pemberontakan yang Nara lakukan tidak sebanding dengan tenaga pria yang dia tahu akan melakukan apa. Harapan jika akan ada yang menyelamatkannya dari pria gila ini pun telah sirna manakala pria itu telah berhasil. Berhasil menggagahinya dengan begitu kejam sampai dia tidak tahu apakah hari esok masih menunggunya. Cup! Kecupan singkat mendarat di pipi putih Nara yang basah oleh air mata sebelum pria asing itu beranjak. Tanpa belas kasihan meninggalkan Nara yang terlentang tak berdaya dengan tenaga tak tersisa. Tiada sepatah kata, bahkan untuk sekedar menunjukkan empati bahwa dia adalah manusia. Ya Tuhan ... siapakah pria b***t yang sudah tega melakukan hal ini padaku? Nara memukul tanah dengan air mata berderai. Sesak luar biasa karena untuk melihat wajah pria iblis itu saja dia tidak bisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN