Happy reading Dua bulan kemudian. Pagi ini, Banyu sudah berangkat berjualan keliling. Rara, dan Lala sudah berangkat sekolah. Meera memanggil pria baju putih. Ia ingin di antar melihat keadaan keluarganya. Pria baju putih, mengantarkan Meera ke rumah sakit. Maminya sedang duduk bersebelahan dengan seorang pria berjubah dokter. "Keputusan ada di tanganmu, Tania." Kepala Tania menggeleng pelan. Kedua telapak tangannya menutup wajah. Isaknya terdengar samar. "Ta ...." Telapak tangan dokter Thoriq, begitu nama yang tertulis di kartu pengenal yang terjepit di saku baju dokternya, mengusap punggung Mami Meera lembut. Kening Meera bertaut, ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh perasaannya. Meera merasa, tatapan dokter Thoriq pada Maminya bukan tatapan biasa. 'Beberapa bulan aku tid

