Spoiler
“Lepaskan, Tuan … saya mohon …” suaranya pecah, hampir tak terdengar.
Ayu meronta, tapi cengkeraman Jonathan bagai belenggu besi. Tubuh mungilnya ditarik ke arah ranjang, langkahnya terseret tanpa daya. Hatinya berdegup kencang, napasnya terengah-engah.
Namun tatapan Jonathan gelap, wajahnya keras tanpa belas kasih. Ia mendorong Ayu hingga tubuh rapuh itu terhempas ke atas ranjang.
Ayu berusaha bangkit, tangannya menahan sprei, tubuhnya gemetar hebat. Tapi bayangan Jonathan sudah menutupinya, dingin dan mengancam.
Dalam kepanikan, Ayu menoleh ke pintu. Terkunci. Satu-satunya jalan keluar telah lenyap.
Air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Tangan nya bergetar, berusaha mendorong d**a Jonathan, namun sia-sia.
“Jangan … Tuan … tolong …” bisiknya, terputus-putus.
Jonathan menahan kedua tangannya, wajahnya semakin dekat. Ayu memejamkan mata, dadanya bergemuruh antara takut dan putus asa.
Suasana hening. Detik-detik terasa berjalan begitu lambat.
Lalu—Jonathan mulai menciumi lehernya, ayu meronta tak berdaya, tapi Jonathan seakan tak peduli.
Dengan kasar Jonathan menarik kemeja yang membalut tubuh Ayu. Suara kain yang robek terdengar memilukan, seolah merobek harga diri dan benteng terakhir Ayu. Gadis itu menangis semakin keras, air matanya jatuh membasahi pipi, nafasnya tersengal.
Jonathan makin beringas, dengan rakus ia menyasar gundukan itu, Ayu menggeliat sekenanya, berusaha menghindar, tangan Jonathan belum mau berhenti, ia mulai menarik bra yang masih menempel, satu-satunya pertahanan yang masih tersisa, dan kain itu terlepas, gundukan itu kini bebas mencuat membuat Jonathan makin b*******h.
****
Gadis dari Kampung
Langit biru menatap sunyi halaman rumah besar bercat putih gading. Pintu besi terbuka perlahan, menyingkap langkah hati-hati seorang wanita paruh baya—Mbak Sri—yang membawa lebih dari sekadar tas besar.
Di sisi lain, seorang gadis remaja dengan mata polos dan langkah canggung, baru saja kehilangan ibu kandungnya. Ayu Permata, gadis yatim piatu yang sekarang hanya memiliki Bude Sri sebagai satu-satunya keluarga.
Setelah menaruh barang-barang di ruang pelayan, mbak Sri menuntun Ayu memasuki ruang tengah.
Gadis itu menunduk, jemarinya saling meremas, sementara mbak Sri memberanikan diri melangkah maju, menahan getar di dadanya.
“Nyonya …” suara mbak Sri terdengar lirih, hampir tercekat oleh gugup. Ayu berdiri di sampingnya, seperti bayangan kecil yang tak berani bergerak.
“Mohon ijin, saya membawa keponakan saya dari kampung. Ibunya baru meninggal … dan dia tak punya siapa-siapa lagi. Tolong, nyonya … ijinkan anak ini tinggal bersama saya di rumah pelayan.”
Majikan itu menoleh. Seorang wanita anggun berdiri dengan sikap tegas yang memancarkan wibawa khas keluarga Hanggono. Tatapannya turun pada Ayu, menelusuri wajah remaja itu dari ujung rambut hingga kaki, ada kilatan meremehkan di sana.
“Anak ini?” tanyanya dingin.
“Berapa umurnya?”
“Dia … baru kelas dua SMA, nyonya. Saya berencana menyekolahkannya di SMA dekat sini,” jawab mbak Sri sambil menundukkan kepala lebih dalam, menahan napas, seolah takut salah satu kata bisa menjadi alasan penolakan.
Hening sejenak. Lalu terdengar suara majikan itu lagi, masih dengan nada datar.
“Boleh. Tapi dia tidak bisa tinggal gratis. Sepulang sekolah, dia harus ikut membantu pekerjaan rumah, mengerti?”
Mbak Sri hampir tak percaya. Lega bercampur haru, ia segera menunduk lebih dalam, mendorong punggung Ayu agar ikut memberi hormat.
“Terima kasih banyak, nyonya … terima kasih,” ucapnya dengan suara bergetar.
Ayu ikut membungkuk, meski matanya berair. Ia tak sepenuhnya mengerti apa yang menantinya di rumah megah itu, hanya satu hal pasti, ia tak sendiri lagi.
Sore itu, setelah mendapat izin dari nyonya rumah, mbak Sri menuntun Ayu ke halaman belakang.
Dari kejauhan, Ayu melihat seorang pria berkulit legam sedang jongkok, tangannya cekatan membersihkan gulma di sekitar pot bunga. Itulah Agus, tukang kebun yang setia merawat halaman luas milik keluarga Hanggono.
“Yu, ini Mas Agus. Kalau kamu butuh apa-apa di halaman, tanyalah dia,” ujar mbak Sri. Agus hanya mengangguk singkat.
Mereka kemudian melangkah masuk ke area dalam rumah. Di ruang tengah, seorang wanita bertubuh agak berisi dengan jilbab sederhana sedang mengelap meja marmer hingga berkilau. “Ini Bi Ijah,” kata mbak Sri. “Beliau yang bertanggung jawab menjaga kebersihan rumah besar ini.”
Bi Ijah menoleh, matanya hangat penuh kasih, lalu tersenyum pada Ayu. “Ayu namamu sesuai dengan wajahmu, kamu sangat cantik,” hatinya langsung tersentuh melihat sosok Ayu yang menunduk malu.
Tak lama, suara deru mobil terdengar dari garasi. Seorang pria paruh baya keluar, mengenakan seragam sopir rapi. “Itu Mang Asep,” jelas mbak Sri sambil menunjuk. “Beliau sudah lama jadi sopir keluarga Hanggono, tahu banyak seluk-beluk kota ini.”
Mang Asep menyapa Ayu dengan anggukan, suaranya berat namun ramah. “Selamat datang, Neng geulis, semoga betah ya di sini.”
Akhirnya, mbak Sri menepuk lembut bahu Ayu. “Dan tugas Bude di rumah ini … memasak untuk keluarga besar Hanggono. Dapur adalah dunia Bude, Yu. Kelak, mungkin kamu juga akan belajar membantu di sana.”
Ayu hanya mengangguk perlahan. Matanya mengamati sekeliling—orang-orang asing dengan peran masing-masing di rumah megah ini.
Langkah Bude Sri terhenti di depan dinding tinggi yang didominasi foto keluarga berbingkai emas. Mata Ayu membesar, terpaku pada sosok-sosok di dalamnya.
Di sana, seorang wanita tua duduk anggun dengan rambut putih tersanggul rapi. Di sisinya, wanita paruh baya tersenyum kaku, kebayanya modern tapi wajahnya tegang. Di belakang mereka, berdiri seorang pria muda berpostur tegap, jas sederhana tapi elegan. Matanya menyorot cerdas dan dingin.
“Itu …” suara Bude Sri terdengar pelan, penuh kehati-hatian, “nenek itu bernama Nyonya Ratna, ibunya Nyonya Dewi. Yang duduk di sebelahnya adalah Nyonya Dewi, istri dari Tuan besar keluarga Hanggono. Dan …” Bude Sri menelan ludah sebelum melanjutkan, tangannya menunjuk ke arah pemuda tampan di foto, “… yang berdiri di belakang mereka adalah putra tunggalnya. Namanya Jonathan Hanggono.”
Ayu terdiam, tatapan matanya tak bisa lepas dari wajah Jonathan di foto itu. Ada pesona aneh yang membuat hatinya berdebar, sekaligus rasa takut yang samar.
Bude Sri menoleh pada Ayu, mengusap pelan pundak keponakannya. “Ingat baik-baik, Yu. Keluarga ini … merekalah yang kita layani. Hidup kita di sini bergantung pada kemurahan hati mereka.”
Ayu menunduk, meremas ujung bajunya. Di hadapan potret besar itu, ia merasa semakin kecil. Ia hanya seorang gadis desa, anak yatim piatu, yang tiba-tiba terlempar ke dunia penuh kemewahan.
Ayu masih menatap lekat foto besar itu, matanya terpaku pada sosok pemuda tampan yang berdiri gagah di belakang dua wanita terhormat. Namun semakin lama ia menatap, semakin besar pula pertanyaan yang menggelayuti benaknya.
Bibirnya akhirnya bergerak, ragu-ragu, tapi dorongan rasa ingin tahu mengalahkan kegugupannya.
“Bude …” suara Ayu lirih, nyaris berbisik, “di foto ini … hanya ada nenek, ibunya, dan anak laki-laki itu … tapi … ayahnya di mana? Kenapa tidak ikut difoto?”
Bude Sri terdiam sejenak. Wajahnya yang tadi datar kini berubah, tampak sedikit muram. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab, suaranya nyaris seperti bisikan rahasia.
“Ayah Jonathan … tidak tinggal di rumah ini, Yu. Beliau memilih hidup bersama istri keduanya.”
Mata Ayu melebar, ada rasa kaget sekaligus bingung. “Jadi … sejak kecil, Jonathan hanya bersama ibunya?”
Bude Sri mengangguk perlahan. “Iya. Sejak masih kanak-kanak, Jonathan sudah jarang sekali merasakan kehangatan seorang ayah. Ia tumbuh di bawah pengasuhan Nyonya Dewi dan sesekali … hanya sesekali saja, ayahnya datang saat ada pertemuan keluarga besar. Itupun, lebih sering sekadar formalitas.”
Ayu menunduk, dadanya ikut terasa sesak. Tiba-tiba ia merasa iba pada pemuda yang bahkan belum pernah ditemuinya itu. Di balik senyum dingin dalam foto, rupanya tersimpan luka keluarga yang dalam.
Bude Sri melirik Ayu, seakan tahu apa yang berkecamuk di hati keponakannya. “Ingat, Yu … jangan sekali-kali bertanya soal ayahnya di depan mereka. Itu … hal yang sangat sensitif di keluarga Hanggono.”
Ayu mengangguk cepat, meski hatinya masih diselimuti tanda tanya. Ia kembali menatap foto itu—sosok Jonathan Hanggono kini terlihat berbeda di matanya. Bukan hanya pemuda tampan penuh wibawa, tapi juga seseorang yang mungkin menyimpan kesepian di hatinya.
Ayu masih menatap foto keluarga itu dengan perasaan campur aduk ketika suara pelan Bude Sri kembali terdengar, seolah ingin melengkapi cerita yang belum selesai.
“Dan, Yu …” Bude Sri menunduk sedikit, suaranya penuh kehati-hatian. “Sekarang Tuan muda Jonathan sedang menempuh kuliah di Amerika. Dia anak pintar, sangat cerdas, makanya dikirim jauh oleh keluarganya. Setiap tahun, biasanya hanya sekali ia pulang—saat liburan panjang.”
Ayu mengangkat wajahnya, menoleh cepat pada Budenya. Ada kilatan penasaran di mata gadis remaja itu. “Jadi … dia tidak tinggal di rumah ini?”
Bude Sri tersenyum tipis, getir. “Tidak, Yu. Rumah sebesar ini jarang benar-benar penuh. Tuan muda hanya singgah sebentar, lalu pergi lagi. Tapi …” ia menghela napas panjang, “bulan ini kabarnya dia akan pulang. Seharusnya tidak lama lagi kita akan melihatnya kembali.”
Hati Ayu berdegup sedikit lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Bayangan wajah Jonathan dalam foto itu semakin kuat terpatri di benaknya, seakan hidup, seakan menatap balik padanya.
Bude Sri meraih bahu Ayu, menepuknya lembut. “Ingat, Yu. Tuan muda Jonathan berbeda dengan orang lain. Dia dibesarkan dalam keluarga besar yang penuh aturan dan kehormatan. Jangan pernah membuat masalah di hadapannya.”
Ayu hanya mengangguk, meski hatinya terus bertanya-tanya. Seperti apa sosok Jonathan Hanggono yang nyata? Apakah sama dinginnya dengan senyum di foto itu, ataukah ada sisi rapuh yang tersembunyi di balik matanya?
****