KULIAH

1338 Kata
Permintaan itu terlalu spesifik, tidak biasa. Selama ini, Jonathan nyaris tak pernah peduli siapa yang mengantar minumannya. Ada ketidaknyamanan yang merayap, namun sebagai pengasuh yang sudah lama mengabdi, ia tahu tak ada ruang untuk membantah. “Baik, Tuan Muda,” jawabnya akhirnya, menahan nada ragu dalam suaranya. Telepon ditutup. Bunyi klik itu terasa berat di telinga Mbak Sri. Ia memandang Ayu yang masih sibuk merapikan meja. Gadis itu tampak polos, tidak tahu apa-apa, wajahnya masih menyimpan sedikit sisa kebahagiaan dari ucapan selamat barusan. Mbak Sri menghela napas panjang. Ia menghampiri Ayu, menaruh tangan di pundaknya. “Ayu … bikin teh hangat ya, buat Tuan Muda. Dan… kau yang harus mengantarkannya ke kamarnya.” Ayu mengangguk polos. “Baik, Bude.” Namun dalam hati Mbak Sri, ada keresahan yang tak bisa ia usir. Sorot matanya mengikuti Ayu yang mulai menyiapkan teh, sementara pikirannya terus berputar: Kenapa harus Ayu? Apa yang sebenarnya dipikirkan Tuan Muda? **** Ayu melangkah gugup di lorong lantai dua, baki berisi secangkir teh bergetar ringan dalam genggamannya. Lampu gantung di koridor berayun pelan, memantulkan bayangan di dinding yang seakan memperbesar rasa cemas di dadanya. Ia mengetuk perlahan pintu kayu jati besar itu. “Masuk,” suara Jonathan terdengar datar dari dalam. Dengan hati-hati Ayu membuka pintu. Kamar itu luas, sebagian menyatu dengan ruang perpustakaan pribadi. Aroma buku tua bercampur samar dengan wangi kopi dan kertas. Jonathan duduk di kursi dekat meja kerjanya, kemeja putihnya terbuka dua kancing di atas, rambutnya agak berantakan, namun tatapannya tajam menusuk ke arah Ayu. Ayu menunduk, meletakkan baki teh di meja. “Ini tehnya, Tuan …” ucapnya pelan. Jonathan tidak langsung menyentuh teh itu. Ia hanya bersandar, menyilangkan tangan di d**a, matanya tak lepas dari Ayu. Ayu berdiri canggung di hadapan Jonathan, matanya menunduk dalam-dalam, sementara baki kosong masih ia genggam erat. Udara kamar itu seakan lebih berat dari biasanya. Jonathan duduk bersandar di kursi kerjanya, jemarinya mengetuk meja dengan ritme lambat namun mengintimidasi. Tatapannya menusuk, dingin, dan tajam. Lalu suaranya pecah, rendah namun sarat dengan tekanan. “Kenapa kamu masih berani bertemu dengan Raka? Apa kau lupa peringatanku?” Ayu terperanjat, jantungnya berdentum keras. Ia tahu, ini pasti akan terjadi cepat atau lambat. Jemarinya gemetar, tapi ia berusaha mengatur napas, menahan rasa takut yang mencekik lehernya. Dengan suara lirih namun berani, Ayu menjawab. “Sebelumnya saya minta maaf, Tuan … tapi, apa alasan Anda melarang saya bertemu Mas Raka? Kalau hanya karena Anda yang menggaji saya, saya akan pergi dari rumah ini … dan mencari pekerjaan lain.” Ruangan mendadak hening. Sorot mata Jonathan membeku, tatapannya semakin dingin, seolah mencoba menembus pertahanan hati Ayu. Napasnya tertahan, kemudian perlahan menghela, tapi tidak ada senyum, tidak ada kehangatan—hanya aura dingin yang menusuk tulang. Tatapan Jonathan tajam, nyaris membakar. Ia tidak langsung menjawab, hanya membiarkan kata-kata Ayu menggantung di udara, menekan batin gadis itu hingga nyaris runtuh. Ayu akhirnya menunduk lebih dalam. Dengan suara hampir bergetar, ia berkata pelan. “Saya sudah mengantarkan teh yang anda minta, kalau tidak ada hal lain, saya ijin undur diri, Tuan.”  Tanpa menunggu persetujuan, ia berbalik. Langkah kakinya pelan namun tergesa, hampir seperti berlari kecil menuju pintu. Helaan napas berat lolos dari bibirnya begitu gagang pintu itu digenggam. Saat pintu tertutup rapat di belakangnya, Ayu menahan air mata yang sudah menggenang. Jantungnya masih berdegup kencang, namun ada sedikit lega—karena ia berhasil berdiri di hadapan Jonathan tanpa sepenuhnya tunduk. Di dalam kamar, Jonathan masih duduk kaku. Tatapannya kosong menembus pintu yang baru saja ditutup Ayu. Jemarinya mengepal di atas meja, namun wajahnya tetap tanpa ekspresi, dingin, dan beku. Hanya matanya yang berkilat samar, entah oleh amarah, entah oleh sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mau akui. **** KULIAH Hari-hari Ayu kini terasa berbeda. Pagi yang biasanya ia isi dengan membantu Bude Sri di dapur, kini berganti dengan rutinitas baru—mengenakan seragam almamater, membawa tas berisi buku, dan berlari kecil menuju aula kampus tempat orientasi mahasiswa baru berlangsung. Di tengah keramaian mahasiswa yang bercampur antara gugup dan riang, Ayu berusaha menyesuaikan diri. Senyumnya yang tulus membuat beberapa teman baru merasa nyaman berada di dekatnya. Namun, di sela kerumunan, sebuah suara yang sudah tidak asing memanggilnya. “Lho, Ayu?” Ayu menoleh, matanya berbinar melihat Raka yang berdiri dengan kemeja santai dan map di tangannya. “Mas Raka? Kok ada di sini?” tanyanya heran. Raka tersenyum miring, ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan kepada orang lain. “Ya ada urusan kampus, bimbingan skripsi. Biasanya aku paling malas ke sini, tapi … sekarang rasanya kampus jadi lebih menyenangkan.” Ayu tertawa kecil, sedikit tersipu. “Jangan bercanda, Mas.” “Tapi serius,” balas Raka sambil menatapnya lebih lama dari biasanya, tatapan yang membuat Ayu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Sejak hari itu, setiap kali Raka harus bolak-balik kampus untuk bimbingan, ia selalu berusaha meluangkan waktu sebentar untuk menghampiri Ayu. Baginya, sekadar melihat Ayu berjalan di lorong kampus atau mendengar suaranya menceritakan pengalaman orientasi sudah cukup membuat lelahnya terasa ringan. Dan tanpa disadari Ayu, semangat Raka yang dulu nyaris padam di dunia akademik perlahan menyala kembali—semata karena kehadirannya. **** Suasana kantor Jonathan siang itu dipenuhi dengan ketukan keyboard dan berkas-berkas yang menumpuk di meja. Dinding kaca besar di belakangnya menampilkan pemandangan kota, namun sama sekali tidak mampu mencairkan hawa kaku di ruangan itu. Jessica masuk dengan langkah hati-hati. Gaun pastel yang dikenakannya memberi kesan anggun, namun senyum yang ia bawa perlahan memudar begitu melihat wajah tunangannya yang terbenam di balik tumpukan dokumen. “Jo,” panggil Jessica lembut sambil mendekat. “Aku ingin bicara soal rencana pesta ulang tahunku minggu depan. Kupikir, akan menyenangkan kalau kita merayakannya di rumah dengan keluarga dan beberapa teman dekat.” Ucap Jessica. Jonathan tak langsung menjawab. Ia hanya menggeser lembaran laporan keuangan, menandatangani selembar kertas, lalu menutup mapnya dengan tenang. Baru kemudian matanya terarah pada Jessica, namun sorotnya dingin, datar. “Kalau soal pesta, bicarakan saja dengan Mama. Aku tidak punya waktu membahas hal remeh seperti itu.” Nada suaranya begitu tenang, tapi menusuk. Jessica terdiam, senyumnya terpaksa ia pertahankan meski hatinya tercekat. “Tapi … ini ulang tahunku, Jo. Aku ingin setidaknya kamu—” “Jess,” potong Jonathan, kali ini mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya tetap dingin tapi jelas terdengar jemu. “Aku punya prioritas yang lebih penting. Jangan ganggu pikiranku dengan hal-hal yang bisa diatur orang lain. Aku percaya Mama bisa mengurusnya lebih baik dariku.” Jessica menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa kecewa yang mulai merambat. Ia menunduk, jemari meremas tas kecil di tangannya. “Baiklah, kalau begitu aku akan diskusikan dengan Tante,” jawabnya lirih, lalu melangkah mundur pelan. Saat pintu ruangan tertutup kembali, Jonathan menghela napas panjang, menatap sekilas ke luar jendela sebelum kembali pada tumpukan dokumennya—seolah kehadiran Jessica barusan hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti. Sementara di luar ruangan, Jessica bersandar pada dinding koridor, hatinya diliputi bingung. Ia bertunangan dengan pria yang nyaris sempurna di mata orang lain, tapi dinginnya Jonathan membuatnya sering bertanya-tanya: bagaimana caranya menghadapi hati yang membeku itu? **** Ruang tamu keluarga Hanggono sore itu dipenuhi obrolan ringan antara Jessica dan Ibu Jonathan. Mereka tengah mendiskusikan pesta ulang tahun Jessica yang akan segera digelar. Ayu masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi teh dan kudapan. Senyum kecil berusaha ia pertahankan, meski tubuhnya tegang di balik celemek sederhana. Ia meletakkan cangkir di meja satu per satu. Tepat saat itulah pintu depan terbuka. Jonathan masuk, jas kerjanya masih rapi, langkahnya tenang namun berwibawa. Ia tidak langsung menyapa, hanya berdiri di belakang sofa, memperhatikan tanpa ekspresi. Jessica, yang belum menyadari kehadiran Jonathan, melirik Ayu dengan senyum sinis. Dengan nada seolah penuh kemurahan hati, ia berkata, “Ah, Tante … rasanya aku ingin mengundang Ayu ke pestaku nanti. Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya di rumah ini. Tentu saja, sekadar sebagai pelayan keluarga Hanggono.” Kata-kata itu jatuh tajam, merendahkan. Ayu menunduk dalam, jemarinya sedikit bergetar saat menata cangkir terakhir. Saat Jessica selesai bicara, hening sesaat menggantung. Baru kemudian ia menyadari tatapan dingin yang mengawasinya. Jonathan berdiri tak jauh dari mereka, sorot matanya menusuk, datar namun menekan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN