Hati Tuan Muda yang Gelisah

1941 Kata

Mbak Sri mengusap bahunya lembut. “Entahlah, Nak. Tapi syukuri saja, rezeki memang sering datang dari arah yang tak disangka-sangka.” Ayu mengangguk pelan, memeluk erat kotak laptop itu. Senyum bercampur air mata terlukis di wajahnya—bahagia sekaligus bingung. Sementara itu, dari lantai dua, Jonathan berdiri di balik jendela kamarnya. Tirai terbuka sedikit, cukup untuk melihat Ayu yang tengah memeluk hadiah itu. Matanya redup, penuh gejolak yang ia sembunyikan di balik wajah dingin. Ia tak berkata apa pun, hanya menatap lama—antara puas karena melihat kebahagiaan Ayu, dan tersiksa karena senyum itu bukan untuknya. Dengan gerakan pelan, ia menutup kembali tirai jendela. Membiarkan kamarnya kembali dalam kegelapan, menelan hatinya yang tak menentu. **** Keesokan harinya Ayu berdiri di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN