Demam pertama itu datang tanpa aba-aba. Bukan tangisan keras atau drama besar. Hanya tubuh kecil yang terasa lebih hangat dari biasanya. Malam itu, Naya baru saja selesai menyiapkan tas sekolah untuk esok hari ketika Lara merengek pelan dari kamar. Bukan tangis—lebih seperti suara tidak nyaman yang putus-putus. “Sayang, kamu kenapa?” Naya masuk, menyalakan lampu tidur. Lara menggeliat di ranjangnya, pipinya merah, rambutnya sedikit basah oleh keringat. Naya menyentuh dahinya—dan jantungnya langsung berdegup lebih cepat. “Leo, Sayang…” suaranya sedikit naik. “Bangun, dong.” Leo yang masih setengah tidur langsung duduk saat melihat wajah Naya. “Kenapa, Cintaku?” “Lara panas.” Leo berdiri cepat, mengambil termometer dari laci. Mereka menunggu dalam hening, hitungan detik terasa panjang

