Ketika Anda mengunjungi situs web kami, jika Anda memberikan persetujuan, kami akan menggunakan cookie untuk mengumpulkan data statistik gabungan guna meningkatkan layanan kami dan mengingat pilihan Anda untuk kunjungan berikutnya. Kebijakan Cookie & Kebijakan Privasi
Pembaca yang Terhormat, kami membutuhkan cookie supaya situs web kami tetap berjalan dengan lancar dan menawarkan konten yang dipersonalisasi untuk memenuhi kebutuhan Anda dengan lebih baik, sehingga kami dapat memastikan pengalaman membaca yang terbaik. Anda dapat mengubah izin Anda terhadap pengaturan cookie di bawah ini kapan saja.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Karin duduk di sofa yang terletak di dalam ruangan kerja Bimo. Radit sudah keluar, setelah mengantarnya masuk, dan berbincang sebentar dengan sahabatnya itu. Sementara itu, sang pemilik ruangan, terlihat sedang sibuk di depan laptopnya. Karin sudah memberi tahu Bimo, jika Alka, dan istrinya terlambat--karena putra kembar mereka rewel. Dan tentu saja pria itu memakluminya. Bimo justru tertawa, mengatakan bahwa Kala, dan Dewa itu menggemaskan. Memang benar sih. Karin saja selalu dibuat gemas oleh kedua bayi itu. Pintu terketuk, dan dua orang yang sedang berada di dalam ruangan tersebut refleks menoleh ke arah datangnya suara. “Ya…” Bimo menyahut, tanpa beranjak dari tempat duduknya. Pintu kemudian terkuak. Detik selanjutnya, pria yang sibuk di depan laptop dari awal Karin memasuki ruangann