63

1195 Kata

Jam dinding di ruang tengah apartemen mewah milik Sadewa sudah menunjukkan pukul lima sore. Kilau keemasan dari matahari yang mulai tenggelam menerobos masuk melalui dinding kaca raksasa, memantulkan bayangan sunyi di atas lantai parket. Sejak pulang dari pacuan kuda bersama sang Papa siang tadi, Dewa benar-benar dibuat urung-uringan. Pria blasteran itu terus menggeram kesal, berjalan bolak-balik di ruang tengahnya seperti singa kelaparan yang terkurung di dalam sangkar emas. Penyebabnya hanya satu: seharian ini, tidak ada satu pun kabar dari Lintang Ayu. “Aneh... Jan jancok, kok ndak biasanya bocah gembul itu sedingin ini,” umpat Dewa kasar dalam hati. Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja bar dapur untuk kesekian kalinya. Layar gawai mahal itu dinyalakan dengan sentakan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN