51

1953 Kata

Dewa melepaskan pelukannya dengan perlahan setelah memastikan napas Lintang kembali teratur. Pria blasteran itu mengusap puncak kepala tunangannya sekali lagi, lalu berdiri dan melangkah keluar rumah bersama Ayah Bramasta yang sudah menunggu di teras. Suasana di luar sudah sepenuhnya berubah menjadi riuh rendah khas rumah duka. Angin malam Surabaya yang membawa hawa jenggotan seolah ikut mengiringi langkah tegap dua pria Aryadinata-Dirgantara itu membelah jalanan paving menuju kediaman Pak RT. Begitu melewati pagar tinggi yang kini dipasang tenda darurat, aroma minyak wangi jenis non-alkohol dan aroma kapur barus samar-samar mulai tercium. Puluhan bapak-bapak kompleks sudah duduk melingkar di atas tikar rajut yang digelar di teras, sementara sebagian lagi sibuk menata kursi-kursi lipat b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN