98

1929 Kata

Beberapa menit berlalu. Antrean tamu mulai sedikit berkurang. Musik gamelan yang berpadu lembut dengan alunan biola memenuhi Grand Ballroom, menciptakan suasana hangat di tengah ramainya ucapan selamat. Lintang kini kembali berdiri di samping Dewa. Wajahnya memang sudah terlihat lebih segar setelah beberapa suap bakso hangat tadi, tetapi sorot matanya tak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa lelah. Sebagai seorang ayah, Bramasta Aryadinata adalah orang pertama yang menyadarinya. Sejak tadi ia berdiri tak jauh dari pelaminan, sesekali menyambut tamu-tamu penting. Namun pandangannya berkali-kali kembali kepada putri sulungnya. Ia mengenal Lintang lebih dari siapa pun. Senyum itu masih ada. Tetapi bahunya mulai turun. Kelopak matanya sesekali berkedip lebih lama. Dan jemarinya tak pernah be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN