Pagi-pagi buta saat azan subuh baru saja berkumandang, kediaman Aryadinata sudah dilanda badai keriwehan yang selalu saja seperti ini, tapi hangat. Suara klakson dari arah dapur—teriakan Kalinda—, gesekan spatula di atas wajan, hingga omelan yang jelas saja panjang urutannya sudah saling bersahutan memecah sunyinya udara pagi Surabaya. Ibun Kalinda adalah kapten dari segala huru-hara pagi ini. Dengan daster batik andalannya yang dilapisi celemek, wanita paruh baya itu bergerak cekatan ke sana kemari bagai gasing. "Linggar! Sendalnya dipakai, Le! Itu hantaran buah di atas meja jangan dicamil dulu, buat Eyang itu!" pekik Ibun Kalinda sembari tangannya cekatan membungkus jajanan pasar ke dalam wadah mika. "Iya, Bun! Ini lho Linggar jek cari kaos kaki sing gambar robot!" sahut Linggar cempr

