Celina mengolesi mayones di roti, menaruh irisan tomat dan selada di atasnya, lalu menengok ke pintu saat mendengar ketukan. Ia buru-buru menyusun lembaran keju di roti lipat itu, lalu mengelap tangan dengan serbet sambil berjalan menuju pintu. Senyum mengambang di wajah Celina saat menarik kenop pintu itu. “Julien, kau datang lebih a―” Kalimatnya terhenti saat ia menemukan gadis yang menggigil di balik pintunya. Gadis itu terlihat kaget. “Permisi, apa kau ...” Ia melongok ke belakang Celina. “Ada yang bisa kubantu?” tanya Celina bingung. Pundak gadis itu merosot, terlihat menyesal. “Ma―maaf, kurasa aku salah kamar.” “Kalau boleh tahu, siapa yang kaucari?” tanya Celina, masih menekuri penampilan tamu tak diundangnya itu. Ia kagum saat menyadari gadis itu memiliki rambut melewati pingg

