Aurelie duduk bersandar di kursi dan menatap kopinya yang sudah dingin. Ia sama sekali belum menyentuh kopinya sejak tadi. Ia hanya duduk menyendiri di sudut kafe tanpa memerhatikan sekelilingnya. Ia tidak menyangka ia masih akan bereaksi seperti itu bila mendengar nama Arata disebut-sebut. Ia mengira dirinya sudah siap menerima kenyataan. Ia mengira dirinya sudah siap menghadapi Arata tanpa merasakan apa-apa. Ternyata ia salah. Buktinya, tadi ketika Charles menyebut-nyebut Monsieur Kuroara, napasnya tercekat, tenggorokannya tersumbat dan air matanya nyaris tumpah ke luar. Sampai kapan penderitaan seperti ini baru bisa berakhir? Dengan enggan ia melirik jam tangannya. Ia harus kembali ke stasiun radio. Ia harus siaran. Ia bangkit dan meraih tasnya. Ketika ia menegakkan tubuh, matanya m

