London, Inggris. Cipratan air mancur bersusun di seberang Celina Rahardjo mencuat tinggi. Gadis itu terlihat girang, meski cuaca hari itu cukup dingin. Beberapa orang keluar-masuk di pintu utama National Gallery saat ia berjongkok di anak tangganya. Ia nyaman memperhatikan gerak-gerik pejalan kaki yang berlalu-lalang melintasi kawasan itu entah kenapa. Keadaan Trafalgar Square selalu ramai. Dan Celina senang bisa melihat pemandangan itu lagi. Berada di London seakan mengobati sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang terluka setiap kali ia memikirkan Julien-Joseph Carlotti. Seseorang menepuk pundak Celina. Gadis itu memutar kepala dan terpana saat menemukan Aiden Dubois sedang memandang dalam pada bola matanya. “Celina, apa yang kaulakukan di sini?” tanya pemuda itu heran. “Hanya merenung.

