Wisnu tertunduk lemas. Dia seperti seorang pesakitan yang sedang di-interogasi oleh penyidik untuk mengakui semua kesalahan. Reisa melipat tangannya di d**a. Raut wajahnya dingin dan tatapan mata yang tajam. Kata-kata yang dia lontarkan seperti peluru yang terus saja ditembakkan. Menghantam d**a sang papa tanpa ampun. Wisnu tak berkutik. Ibarat seorang narapidana dengan tangan yang diborgol dan tak dapat bergerak sedikitpun. "Sejak kapan, Pa?" tanya Reisa. "Sejak kamu pacaran sama Dimas. Papa udah kenalan sama dia, Rei. Waktu itu papa ke kantornya mau bicara soal kerja sama proyek." Wisnu menatap putrinya dengan enggan. Lelaki paruh baya itu bahkan membuang pandangan sembari menarik napas panjang. "Bukan itu!" "Lalu?" "Sejak kapan papa nidurin dia?" Wisnu meremas rambutnya. Satu

